Minggu, 22 September 2013

Sinopsis Gu Family Book Episode 20 – 1


Seo Hwa mengadakan perjanjian dengan Tae Soo. Ia minta peta yang dicuri dan sebagai gantinya Tae Soo meminta agar Seo Hwa membunuh Jo Gwan Woong. Seo Hwa menyanggupi.  Jo Gwan Woong akan mati hari ini. Asisten Seo Hwa kaget mendengar rencana ini.


Malam itu, orang berbaju hitam suruhan Seo Hwa menyerang Jo Gwan Woong. Namun sebelum pedang menggorok leher Jo Gwan Woong, ninja itu ditebas hingga Jo Gwan Woong terkena cipratan darah.
Oleh pengawal Seo. Ya ampun.. masih hidup?
Pengawal Seo meminta maaf karena ia datang terlambat. Lama tak bersua dengan anak buahnya, bukannya bersyukur, Jo Gwan Woong malah menghardik pengawal Seo, “Kemana saja kau selama ini sampai kau baru muncul sekarang?!”
Pengawal Seo sepertinya sudah biasa dengan perlakuan majikannya dan hanya mengatakan kalau ceritanya sangat panjang dan sekarang mereka dalam situasi yang berbahaya dan meminta Jo Gwan Woong untuk segera pergi dari tempat ini.
Mereka pun keluar dan Jo Gwan Woong mendapat jawaban mengapa pengawal  Seo terburu-buru. Di depan ada beberapa anak buah Seo Hwa yang tewas dengan wajah gosong. Wol Ryung ada di sekitar mereka.
Untuk membunuh Jo Gwan Woong? Like, like, like!
Angin bertiup kencang dan saat mereda, Wol Ryung telah berdiri di hadapan mereka. Sementara para penjaga mencabut pedang mereka dengan was-was, Jo Gwan Woong  tak percaya pada sosok yang berdiri di hadapannya, “Apakah kau..”
Pertanyaan itu membuat si iblis Wol Ryung penasaran, “Apa kau mengenalku?”
Di Moo Hyung Do, Guru Dam meminta Kang Chi untuk melepas gelangnya dan menerima serangannya. Kang Chi tentu saja menolaknya, tapi Guru Dam bersikeras untuk menyerangnya, dengan ataupun tanpa gelang, “Jika kau tak ingin terluka, lepaskan gelang itu. Lepaskan!”
Jo Gwan Woong tak percaya melihat Wol Ryung hidup kembali, “Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau kau ditebas sampai mati. Jadi bagaimana mungkin..?“
“Kau melihatku mati, jadi kau yang membuatku seperti ini. Kau yang memanggilku kemari?” geram Wol Ryung.
Pengawal Seo meminta tuannya untuk segera meninggalkan tempat ini dan menyuruh anak buahnya untuk menerang Wol Ryung. Tapi dengan mudah Wol Ryung mengalahkannya.
Hanya tinggal pengawal Seo yang akhirnya juga menyerang. Tapi hanya dengan satu tangan, Wol Ryung menangkap Pengawal Seo dengan mudah dan mencekiknya, “Nyawa manusia itu sangat lemah. Lebih lemah daripada angin.”
Jo Gwan Woong marah dan menyuruh Wol Ryung berhenti. Tapi Wol Ryung tak akan melepaskan hingga Jo Gwan Woong mengatakan apa yang terjadi pada dirinya dulu, “Apakah kau yang membuatku seperti ini?”
“Bukan aku! Orang itu adalah Seo Hwa. Yoon Seo Hwa,” jawab Jo Gwan Woong. Tapi nama itu seperti tak pernah melekat di ingatan Wol Ryung. Ia pun bertanya siapakah Seo Hwa itu, membuat Jo Gwan Woong berkata lagi, “Dia yang membuatmu seperti ini.”
Wol Ryung melepaskan Pengawal Seo dan secepat kilat menghampiri Jo Gwan Woong. Dan sepertinya ini pertama kali Jo Gwan Woong terpaku ketakutan melihat Wol Ryung mendekatinya. Tapi pandangan ketakutannya langsung berbinar saat Wol Ryung menuntut untuk dijelaskan siapa Seo Hwa itu.
Uhh.. pasti Jo Gwan Woong memutarbalikkan fakta, deh.. Cuman iblis yang bisa mengelabuhi iblis.
Yeo Wool ternyata pergi untuk menemui Seo Hwa. Setelah menjelaskan hubungannya dengan Kang Chi (teman satu sekolah beladiri), Yeo Wool memberitahukan alasan kedatangannya, “Tak dapatkah Anda kembali pada Kang Chi?”
Seo Hwa terkejut mendengar permintaan Yeo Wool yang melanjutkan, “Anda adalah ibunya. Walau saya tak tahu apa alasan Anda meninggalkan Kang Chi di hutan, tapi bisakah Anda menjadi ibunya mulai sekarang?”
Seo Hwa berusaha memasang wajah setenang mungkin saat mendengar alasan Yeo Wool yang berkata kalau selama ini luka Kang Chi terluka tanpa seorang ibu, “Dapatkah Anda memeluk dan menyayanginya? Kebersamaan yang tak pernah didapat selama ini, dapatkah Anda mulai dari sekarang? Ya?”
Kang Chi tetap menolak melawan Guru Dam dengan pedang yang sebenarnya dan meminta Guru Dam menjelaskan alasannya terlebih dahulu. Tapi Guru Dam tak menjawab, malah langsung menebasnya. Kang Chi tak sempat berkedip, dan sabuknya telah ditebas oleh Guru Dam. Ini adalah peringatan kalau Guru Dam tak main-main.
Kang Chi semakin terkejut karena setelah itu Guru Dam terus menyerangnya. Ia segera memungut tongkat yang tergeletak di tanah dan mulai bertahan akan serangan Guru Dam.
Gon tetap mengawasi pertempuran ini dari samping arena. Hanya beberapa jurus, Guru Dam dapat membuat Kang Chi jatuh. Ia menghunus pedang ke leher Kang Chi, “Kalahkanlah aku. Jika kau tak dapat mengalahkanku, aku yang akan menikammu.”
Dari percakapan Guru Gong Dal dan Sung, kita mengetahui kalau ini adalah jenis latihan Guru Dam yang tak akan berhenti hingga pedang rusak. Sung terkejut mendengar latihan yang sangat ekstrim itu karena berarti salah seorang harus terluka parah atau mati. Apa itu berarti Guru Dam ingin membunuh Kang Chi?
Guru Gong Dal mengkoreksi dengan bertanya apa arti latihan itu? Sung menjawab, “Sesuatu yang kita pelajari dan kita latih.” Guru Gong Dal pun bertanya apa tujuan dari latihan? “Untuk melatih siswa.. agar menjadi kuat.” Sung terkejut dengan jawabannya sendiri, “Jika begitu.. berarti.. Guru Dam..”
Guru Gong Dal membenarkan dugaan Sung, “Untuk menjadikan Kang Chi lebih kuat, beliau mengorbankan nyawanya. Dan jika dilihat lebih dalam lagi, jenis latihan ini hanya akan diberikan sekali seumur hidup.”
Ya ampun..  Guru Dam, masa iya sih Kang Chi harus membunuh calon mertua agar lebih kuat?
Yang tak setuju ternyata tak hanya saya, tapi juga Gon yang mempertanyakan alasan Guru Dam melatih Kang Chi seperti itu. Pada Gon, Guru Dam memberitahukan alasannya, “Karena hanya dia yang bisa mengalahkan iblis 1000 tahun. Untuknya yang memiliki takdir membunuh ayahnya sendiri. Hanya ini yang bisa kulakukan.”
Gon masih belum bisa menerima alasan gurunya, tapi Guru Dam mengatakan kalau ialah yang membuat ayah Kang Chi berubah menjadi iblis, “Ini adalah kewajiban yang harus kulakukan. Maafkan aku jika kau tak setuju. Juga aku tak memberikan latihan terakhirku ini padamu. Sekarang bawalah Kang Chi kemari.”
Sayangnya, semua ini tak diketahui oleh Kang Chi yang merasa bingung dan terluka karena mengira Guru Dam masih marah padanya. Apalagi Guru Dam tiba-tiba menyayat lengannya, membuat Kang Chi berdiri dan bertekad, “Jika itu yang Anda inginkan, aku akan melakukannya. Mulailah.”
Kang Chi pun melepas gelangnya dan melemparkannya pada Gon. Guru Dam pun memasang kuda-kuda saat mata Kang Chi berubah warna.
Seo Hwa pun merasakannya. Sepertinya ia selalu merasakan jika Kang Chi dan Wol Ryung berubah wujud.
Seo Hwa memasang wajah dinginnya saat mendengar asistennya (namanya Pil Mo!) masuk. Pil Mo bertanya apakah Seo Hwa yang menyerang Jo Gwan Woong semalam? Seo Hwa membenarkan hal itu karena itulah perjanjiannya dengan Tae Soo.
Separuh menceramahi, Pil Mo mengatakan kalau mereka belum bisa mempercayai Tae Soo sepenuhnya dan dari segi koneksi informasi dan pengaruh, Tae Soo baru bisa menyamai Jo Gwan Woong dalam 10 tahun mendatang.
Tapi Seo Hwa pun juga ingin melihat Jo Gwan Woong menjadi mayat. Pil Mo menghela nafas dan meminta majikannya untuk keluar sebentar.
Seo Hwa terkejut melihat Jo Gwan Woong berdiri di hadapannya dan tersenyum menyapanya. Ia melihat mayat anak buahnya tergeletak dan ia pun menuduh Jo Gwan Woong yang membunuh mereka.
Jo Gwan Woong membalikkan tuduhan itu kalau Seo Hwa-lah yang berniat membunuhnya. Seo Hwa tersenyum sinis dan bertanya, “Jika itu yang terjadi, memang apa yang akan kau lakukan?”
Pil Mo mencoba mengingatkan Seo Hwa. Tapi Seo Hwa malah memanggil anak buahnya (kagemusha) untuk mengepung Jo Gwan Woong.
Melihat Pil Mo dan kepala samurai saling mengangguk, membuat perasaan saya tak tenang.
Tapi Seo Hwa tak melihat kode itu. Saat Jo Gwan Woong bertanya apa yang akan ia lakukan, Seo Hwa menjawab, “Menghentikan nafasmu. Bau nafasmu sangat tak tertahankan. Aku tak tahan lagi. Mati sajalah!”
Jo Gwan Woong marah, tapi Seo Hwa lebih marah lagi dan menyuruh anak buahnya membunuh Jo Gwa Woong.
Seo Hwa tersenyum mendengar suara pedang terhunus. Tapi senyumnya memudar saat merasakan kalau pedang itu tak terhunus pada Jo Gwan Woong, melainkan kepadanya.
Dan Pil Mo pun berjalan ke sisi Jo Gwan Woong, membuat Seo Hwa marah. Tapi Pil Mo yang juga bernama Jae Ryung berkata kalau ia tak akan mengikuti perintah Seo Hwa yang tak berkaitan dengan tugas Seo Hwa sebagai pemimpin bisnis Gung Bon, “Karena itu, tarik kembali perintah yang berhubungan dengan perasaan Anda.”
Seo Hwa terdiam marah, merasa terkhianati. Jo Gwan Woong tersenyum sinis, menang.
Dari kejauhan, Tae Soo melihat semua yang terjadi ini dan melaporkan pada Soo Ryun. Soo Ryun membaca pesan Tae Soo dan memberitahu Chung Jo kalau tindakan pedagang Jepang di penginapan sangatlah mencurigakan dan Tae Soo menduga terjadi pemberontakan.
Chung Jo pun bertanya cemas, apa itu berarti terjadi sesuatu yang buruk pada pemimpin Gung Bon? Soo Ryun tak menjawabnya, tapi wajahnya menunjukkan kecemasan yang sama.
Yeo Wool mengendap-endap, berjingkat-jingkat seperti kelinci masuk ke dalam ruangannya. Tapi begitu masuk, ia hampir terjengkang karena terkejut melihat Gonita sudah berdiri di hadapannya dengan marah, 
“Nona..!”

“Gonita-nim, kau menakutiku..Apa yang sedang kau lakukan di sini?” Yeo Wool mencoba bersikap tenang saat ditanyai kemana saja ia pergi, “Aku hanya keluar untuk menghirup udara segar.”
“Udara segar?!!” bentak Gonita-nim, mengagetkan Yeo Wool. Hilang sudah sopan santun Gonita, “ Jadi kau pergi semalaman?!”
“Eihh.. apa maksudmu semalaman? Bagaimana mungkin kau bisa berkata seperti itu?” bujuk Yeo Wool manis.
Ha. Dan Gonita-nim hanya cemberut seperti anak kecil. Yeo Wool pun bertanya apakah gurunya itu memberitahu ayahnya? Gonita mengatakan kalau ia tadinya berniat begitu, tapi urung karena sejak semalam Guru Dam terus melatih muridnya tanpa sedikitpun beristirahat.
Yeo Wool terkejut mendengar hal ini. Ia pun segera ke halaman dan diberitahu kalau latihan ini sudah berlangsung sejak tadi malam dan belum berhenti. Ia maju untuk menghentikan ayahnya, tapi Guru Gong Dal menghentikannya.
Yeo Wool bertanya mengapa ayahnya melakukan latihan pedang ekstrim ini pada Kang Chi? Guru Gong Dal menjawab, “Ini adalah keputusan ayahmu.”
Yeo Wool menyaksikan pertempuran ini dengan cemas. Tapi ternyata yang dilakukan Kang Chi semalaman hanyalah menghindar dan menghindar dari serangan pedang Guru Dam. Guru Dam memarahi Kang Chi yang tak menggunakan kekuatannya dan mengatainya pengecut dengan menghindar dan melarikan diri.
Tapi bagi Kang Chi, ia bersembunyi bukan karena ia pengecut, “Saya bersembunyi karena tak mau bertempur melawan Guru.”
“Jika kau tak bisa melawanku,” hardik Guru Dam, “Bagaimana kau bisa bertempur melawan ayahmu? Ayahmu, yang telah menjadi iblis, membunuh banyak orang dan yang bisa mengalahkannya hanyalah dirimu. Tapi jika hatimu selemah ini, bagaimana mungkin kau bisa mengalahkannya?
Kang Chi terperangah mendengar alasan Guru Dam yang sebenarnya. Guru Dam menyuruh Kang Chi untuk melawannya, seolah-olah melawan Wol Ryung, “Jika kau tak bisa mengalahkanku, kau tak akan pernah bisa mengalahkan ayahmu.”
Gon memberi semangat pada Kang Chi untuk melakukan yang terbaik, “Jujur, tak ada yang tahu batas kemampuanmu. Mengeluarkan kemampuanmu itu tergantung akan kemauan dan pikiranmu. Guru ingin kau mengeluarkannya. Kau menghina beliau jika kau tak melakukan yang terbaikmu, Kang Chi.”
Gon keren! Mendapat suntikan semangat dari Gon, Kang Chi pun melawan dengan lebih bersemangat, lebih gesit dan lebih lincah. Tapi tetap saja Kang Chi bisa dipukul jatuh.
“Dengan kondisi seperti ini, kau tak mungkin bertahan. Kau terlalu lemah!” seru Guru Dam. “Ingat saat-saat dimana kau pernah mengumpulkan kekuatanmu yang paling kuat!”
Dan Kang Chi pun teringat saat Yeo Wool ditangkap oleh Wol Ryung, dan ayahnya diinjak-injak oleh pengawal Jo Gwan Woong. Guru Dam melihat perubahan itu dan bersiap-siap. Kang Chi mengaum dan menyerang Guru Dam.
Kali ini pertempuran lebih seimbang. Bahkan di suatu titik, Kang Chi berhasil mendapatkan killing moment yang dapat melukai bahkan membunuh Guru Dam.
Tapi Kang Chi ragu dan menghentikan serangannya. Guru Dam menyadarinya dan menusuk pinggang Kang Chi.
Semua terkejut melihatnya. Tapi tusukan itu ternyata tak mematikan. Guru Dam mengatakan jika Kang Chi memutuskan untuk menyerang, jangan pernah ragu karena hal itu akan membunuhnya. Dan yang mati tak hanya Kang Chi, tapi semua orang yang akan Kang Chi lindungi juga akan mati, 
”Menjadi kuat berarti tahu batas antara belas kasihan dan kejam. Menjadi kuat juga harus memiliki hati yang panas untuk keadilan sekaligus kepala yang dingin untuk menilai. Karena itu menjadi kuat itu sangatlah kesepian. Hanya jika kau bisa mengendalikannya, maka kau dapat menang. Ingatlah itu, Kang Chi.”
Guru Dam meminta agar Kang Chi datang berlatih kembali pada pukul 3 sore nanti.
Yeo Wool dan Sung segera menghampiri Kang Chi. Begitu pula Gon yang meminta Kang Chi untuk segera memahami apa yang telah diajarkan oleh Guru Dam.
Jika selama ini kita mengira kalau Guru Dam tak merasakan apapun setelah bertempur dengan Kang Chi, ternyata salah. Karena tangan Guru Dam ternyata berdarah karena menggenggam pedang lebih kuat untuk menahan dan menyerang Kang Chi.
Pil Mo menghadap Jo Gwan Woong dan memberikan hadiah sebagai permintaan maaf atas kejadian sebelumnya. Jo Gwan Woong terkejut dan girang melihat hadiah itu yang ternyata adalah senapan. Jo Gwan Woong pun membalas dengan memberi hadiah pada Pil Mo.
Hadiah itu adalah gambar denah perahu besi dari Angkatan Laut Joseon.
Namun ternyata perahu yang dibuat bukanlah sesuai dengan denah itu, karena mereka memiliki desain kapal baru, yang dinamakan kapal kura-kura. Dan yang menyertai kapal itu adalah meriam dengan berbagai ukuran.
Jika jaman sekarang ada uji coba rudal, maka di jaman Joseon pun mereka melakukan uji coba meriam. Ada meriam langit, meriam yang paling kuat dan meriam bumi. Lee Soon Shin memeriksa hasil uji coba ini. Dan ia juga memeriksa denah kapal AL yang terbaru dan berbeda.
Pil Mo menyangsikan apakah kapal ini benar-benar akan diproduksi. Jo Gwan Woong menenangkan, “Jikapun memang benar mereka akan membuatnya, aku akan yakinkan agar mereka semua dapat musnah.”
Dan Jo Gwan Woong mengangkat senapan, seolah-olah ia menjadi dewa dengan hanya membawa senapan itu. Hmm.. senapan dengan meriam, menang siapa, ya?
Di kamar, Kang Chi masih terngiang ucapan Guru Dam yang mirip dengan ucapan Gon di malam sebelumnya. Ia terpekur lesu.
Yeo Wool muncul dan membawakan baju bersih untuknya. Yeo Wool juga menanyakan kondisi luka Kang Chi. Kang Chi menenangkannya kalau lukanya sudah membaik.
Tapi Yeo Wool tak percaya. Tanpa peringatan sedikitpun, Yeo Wool langsung menarik ikat baju Kang Chi dan membukanya.
Ha. Kang Chi bengong melihat Yeo Wool membuka bajunya dengan semena-mena. Ia merasa canggung dengan perlakuan Yeo Wool. Tapi tidak dengan Yeo Wool, yang memeriksa bekas luka itu dengan serius, “Walau begitu, pasti rasanya sakit sekali. Benar, kan?”
Kang Chi tergagap-gagap saat menjawabnya. Dan jawabannya hanya , “Ohh.. ehmm… ya..”
Yeo Wool heran dengan sikap Kang Chi yang aneh. Apalagi saat Kang Chi menutup bajunya lagi, “Kau kan seharusnya ganti baju, kenapa juga kau memakai baju itu lagi?”
LOL. Yeo Wool mungkin sudah terbiasa melihat pria ganti baju karena murid Moo Hyung Do semuanya pria. Tapi tidak dengan Kang Chi. Ia hanya dapat tersenyum canggung dan ragu-ragu. Yeo Wool tetap memandanginya dengan polos, membuat Kang Chi semakin salah tingkah.
Ia pun akhirnya berbalik, tapi Yeo Wool tetap memandanginya. Kang Chi  mencoba menunda waktu dengan meregangkan tangannya, tapi Yeo Wool tetap tak bergerak. Berkedip pun juga tidak. Haha..
Kang Chi senyum-senyum nggak jelas, membuat Yeo Wool heran. Dengan tangannya, akhirnya Kang Chi mengisyaratkan agar Yeo Wool berbalik.
Yeo Wool pun mengerti, dan mereka berpunggung-punggungan. Kang Chi pun berani membuka baju. Namun ada satu masalah lagi. Bajunya masih ada di dekat Yeo Wool. Tanpa melihat, ia pun meraba-raba lantai mencari baju ganti.
Menyadari Kang Chi mencari baju, tanpa melihat, ia pun menyodorkan baju itu.
Dan tanpa sengaja, tangan mereka bersentuhan. Aww… mereka terkejut, dan sama-sama berbalik, saling menatap.
Kemudian mata Yeo Wool turun menatap badan Kang Chi, membuat Kang Chi malu dan segera memakai bajunya yang malah membuatnya gerah.
Yeo Wool baru menyadari kalau Kang Chi sangat malu, dan ia pun cekikikan tak dapat menyembunyikan rasa gelinya.
Mendengar suara tawa Yeo Wool, Kang Chi pun berbalik dan bertanya, “Apakah kau segembira itu melihat tubuh pria yang telanjang?”




Tidak ada komentar:

Posting Komentar