Jumat, 01 Februari 2013

Sinopsis Flower Boy Next Door Episode 1 Part 1

Sinopsis Flower Boy Next Door Episode 1 Part 1






Judul lain : I-Oos-Jib Kkot-Mi-Nam
Genre: Romance, comedy
Episodes: 16
Broadcast network: tvN
Broadcast period: 2013-Jan-07 to 2013-Feb-26
Air time: Monday & Tuesday 23:00

Production Company: CJ E&M
Producer: Jo Moon Joo
Director: Jung Jung Hwa
Original writing: Webtoon ‘I Watch Him Every Day‘ by Yoo Hyun Sook
Screenwriter: Kim Eun Jung

Cast
Park Shin Hye as Go Dok Mi
Yoon Shi Yoon as Enrique Geum
Kim Ji Hoon as Oh Jin Rok
Park Soo Jin as Cha Do Hwi
Kim Yoon Hye as Enrique’s first love
Go Kyung Pyo as Oh Dong Hoon
Kim Jung San as Han Tae Joon
Mizuta Kouki as Watanabe


Episode 1

Dok Mi terbangun karena bunyi alarm dari ponselnya. Ia tinggal dalam sebuah apartemen kecil. Berpot-pot tanaman tumbuh subur di balkon. Di dinding berbaris tempelan kertas post-it. Buku-buku berserakan di atas meja. Dok Mi adalah seorang editor atau pengoreksi naskah/buku.

Mungkin karena pekerjaannya itulah Dok Mi terbangun bukan di kasurnya, melainkan di lantai di dalam kantung tidur setelah semalaman membaca buku. Untuk menghangatkan diri, ia semalaman tidur memeluk botol minum berisi air hangat. Sekarang air dalam botol itu telah menjadi dingin.

Dok Mi menuangkan air dari botol itu ke dalam gelas, lalu menyikat giginya. Sepertinya ia sudah lama tidak membuang sampahnya karena di dalam dus bertumpuk gelas-gelas plastik dan botol-botol air minum yang telah kosong. Walau begitu semua cangkir itu dalam keadaan bersih.

Dok Mi membuka pintu apartemennya sedikit, lalu mengulurkan tangannya keluar untuk meraih kotak susu yang terletak di luar apartemennya. Di kotak susu itu tertempel kertas bertuliskan: Semoga harimu baik. Kemudian ia membuka tirai apartemennya.

Di apartemen seberang, yang jelas lebih bagus dari apartemen Dok Mi, tampak seorang pria menggeliatkan tubuhnya tanda ia baru bangun tidur. Dok Mi tersenyum lembut. “Apa kau tidur dengan nyenyak?” tanyanya pada pria itu. Pria itu Han Tae Joon.

Tae Joon jelas tidak tahu ada seorang gadis sedang memperhatikannya dari seberang. Ia menyalakan TV-nya lalu mulai berolahraga. Dengan segera Dok Mi mengikuti setiap gerak-gerik Tae Joon. Ia ikut menyalakan TV-nya.

Tae Joon berlari di treadmill, Dok Mi berlari-lari kecil bolak balik di dekat jendela sambil terus memperhatikannya.

Tae Joon sarapan dengan roti dan jus jeruk, Dok Mi duduk dekat jendela sambil memakan sarapannya, roti dan susu. Tae Joon membersihkan apartemennya dengan vacuum cleaner sementara Dok Mi menyapu apartemennya dengan sapu. Entah bersih atau tidak karena Dok Mi selalu berada tak jauh dari jendela.

Akhirnya Tae Joon berangkat kerja. Dok Mi tersenyum lalu melambaikan tangannya seperti seorang istri mengantar suaminya bekerja. “Semoga kau mengalami hari yang baik,” gumamnya.

Di pesawat, seorang pria sibuk mengerjakan sesuatu. Tempat duduknya sangat berantakan, banyak barang berserakan. Pramugari yang mengantarkan minuman mengernyit sebal melihat kekacauan itu. Tapi begitu pria itu mengangkat wajahnya melihat sang pramugari dan tersenyum, dengan segera wajah pramugari itu menjadi cerah dan tersenyum manis pada pria itu.

Terdengar suara tangis anak kecil dari pesawat bagian belakang. Pria itu berjalan menuju tempat duduk si anak kecil, melewati deretan para penumpang wanita yang tidak bisa tidak menoleh kagum melihatnya. Yup, Enrique Geum (baca: enrike, seperti e dalam buket) memiliki kemampuan membuat semua wanita terpesona.

Bagaimana dengan anak kecil? Anak kecil yang sedang menangis itu berhasil ditenangkan oleh Enrique dengan robot-robotan dari kertas yang tadi dibuatnya sepanjang perjalanan. Anak kecil itu senang saat Enrique memberikan robot-robotan itu untuknya. Tampaknya Enrique memiliki kepribadian periang (selain tampan) dan juga kreatif.

Saat melewati pabean, lagi-lagi Enrique berhasil membuat seorang gadis tersenyum. Gadis itu sepertinya pegawai baru yang sedang menjalani training dan mengantuk karena bosan. Enrique mengarahkan kameranya pada gadis itu namun petugas pabean menegurnya. Tidak boleh menggunakan kamera di situ (seakan untuk meyakinkan, di meja pabean tertempel gambar kamera dicoret).

Enrique menyerahkan paspornya sambil tetap tersenyum, tak terpengaruh dengan teguran tadi. Petugas pabean membaca paspor Enrique lalu mengomel dengan bahasa banmal (bahasa informal). Ia mengira Enrique menghindari wajib militer hingga memiliki dua kewarganegaraan (Korea dan Spanyol). Ia bertanya dengan keras apakah Enrique bisa berbahasa Korea.

Enrique menjawab dengan ceria, ia berkata ia merasa sudah berteman dengan petugas itu karena petugas itu telah berbicara dengan bahasa banmal padanya

“Aku berbahasa Korea dengan baik, bukan? Aku pindah ke negara lain saat aku berusia 9 tahun dan terbiasa disebut jenius di sekolah. Kebanyakan orang dengan dua kewarganegaraan di sana tidak bisa berbahasa Korea.

Tapi ayahku tidak pernah mengijinkan aku berbahasa Spanyol di rumah,” celoteh Enrique. Walau ia hanya berdehem, ayahnya akan langsung memukul belakang kepalanya. Saat itulah ia tahu kepalan tangan lebih berguna dalam mendisiplinkan anak daripada uang. Enrique berbicara dengan lucu hingga si gadis kembali tertawa.

Petugas pabean bertanya mengapa Enrique datang ke Korea. “Baak! Untuk menembakkan panah asmara,” jawab Enrique sambil pura-pura memanah si petugas.

Ternyata Enrique orang yang cukup dikenal. Banyak orang dan wartawan yang sudah menanti kedatangannya. Para wanita bahkan berteriak histeris. Enrique melambaikan tangan dan berpose bak seorang selebritis.

Wartawan bertanya pada Enrique mengenai animasi yang dibuat Enrique. Mereka ingin tahun apakah Enrique mendapat tawaran bekerja di Pixar Disney.

Sebuah perusahaan di Korea telah menawarkan pekerjaan dengan gaji tinggi, apakah ia akan keluar dari Sola Studio (tempat bekerja Enrique sekarang)? Enrique tidak menjawab pertanyaan itu. Matanya menangkap seorang gadis yang berjalan ke arahnya. Ia tak menghiraukan lagi para wartawan dan tersenyum pada gadis itu.

Gadis itu adalah Yoon Seo Young. Seo Young tersenyum pada Enrique. Keduanya jelas saling mengenal.

Di tempat lain, dua orang pria juga menarik perhatian para wanita yang berpapasan dengan mereka, Oh Jin Rak dan Yoon Dong Hoon. Keduanya berpakaian stylish, lengkap dengan kacamata hitam. Mereka berjalan dengan cool bagai dalam iklan film action.

Tapi tidak semua wanita luluh dengan penampilan mereka. Wanita yang mereka temui tidak senang kedua pria itu tiba-tiba datang menemuinya.

“Begini…hari ini mereka membuat keputusan mengenai webtoon…” kata Jin Rak menjelaskan.

“Kau orang pertama yang kulihat mengenakan jas ke tempat ini,” kata sang editor galak bermata panda, menatap jas yang dikenakan Jin Rak. “Mengapa kau berpakaian seperti ini ke sini?”

Dong Hoon berusaha menyembunyikan senyumnya. Editor itu berkata pakaian Dong Hoon sedikit lebih baik. Dong Hoon protes, hanya sedikit?? (Dong Hoon ini terobsesi dengan penampilan sepertinya^^)

Jin Rak berkata mereka berpakaian formal karena akan bertemu Direktur dan ingin menghormatinya. Dong Hoon menebak editor itu sedang mengikuti demo. Ia berkata mereka juga pendemo. Sikap editor itu berubah. Ia menyalami Jin Rak dengan hangat dan mempersilakan mereka duduk.

Sayangnya editor itu menyampaikan berita buruk. Webtoon “Zombie Soccer” buatan Jin Rak dan Dong Hoon tidak akan diterbitkan.

“Kenapa?” tanya Jin Rak tak percaya.

“Zombie Soccer adalah plagiat dari karya Enrique,” jawab si editor.

Dong Hoon berkata Enrique membuat game sedangkan mereka membuat webtoon, tidak ada kaitannya. Editor itu berkata mereka tidak bisa mengacau dengan para gamer, terutama Enrique.

“Sejujurnya, kita tidak akan bisa bersaing dengan orang yang ada di Spanyol, kan?” kata Dong Hoon membela diri.

“Enrique ada di Korea,” kata si editor. Ia menunjukkan video kedatangan Enrique di bandara. Dong Hoon dan Jin Rak tak bisa berkata apa-apa lagi. Jin Rak sepertinya mulai kesal karena dituduh meniru Enrique.

“Jika kau berhasil membuat yang baru, hubungi aku. Fighting..” Si editor langsung menyandarkan kepalanya di meja. Tidur.

Dong Hoon tak mengira pembuat game bisa berpenampilan seperti Enrique. Ia merasa tersaingi.

“Kak, apa kau akan menyerah mengenai “Zombie Soccer”?” tanyanya pada Jin Rak. Ia mengusulkan menunjukkan gambar lain pada si editor. Ia melihat gambar-gambar di tabletnya dan berhenti pada sketsa seorang gadis. Dong Hoon tidak merasa pernah menggambarnya. Ia bertanya apakah Jin Rak yang membuat gambar seperti itu (kebanyakan gambar mereka adalah gambar alien dan monster >,<).

Jin Rak menghela nafas melihat gambar itu, lalu membangunkan si editor. Ia menunjukkan sketsa gadis itu.

“Tokoh utamanya adalah wanita yang hidup bersembunyi di apartemen pinggiran kota. Seperti kisah Grimm Bersaudara.”

“Gadis itu zombie, kan? Lalu bagaimana dengan prianya? Vampire?” sindir editor itu. Ia kembali tidur di meja. Tak tertarik sama sekali.

“Bukan, bukan seperti itu. Judulnya: Flower Boy Next Door. Artinya tetangga gadis itu adalah seorang pretty boy (ehemmm…cowo cantik??). Ini sebuah melodrama. Melodrama dalam kehidupan.”

“Melodrama dalam kehidupan?” sang editor tiba-tiba tertarik. “Sudah lama sekali sejak aku mendengar konsep yang begitu fresh. Tokoh utama dalam apartemennya…”

Hmmm…sepertinya Jin Rak dan Dong Hoon sudah mendapatkan proyek webtoon mereka berikutnya.

Di luar bandara, Seo Young bersin-bersin karena kedinginan. Bagaimana tidak? Ia hanya mengenakan gaun putih tipis dan pendek, tanpa mengenakan jaket atau stoking (brrr…padahal di Korea kan lagi dingin banget tuh).

“Apa kau tidak merasakan apapun padahal ini pertama kalinya kita bertemu setelah setahun. Wah, kau ini benar-benar beda,” omel Enrique.

“Perasaan apanya?” Seo Young mengambil lolipop dari mulut Enrique. “Kukira aku akan membeku kedinginan menunggumu selesai diwawancara.” Ia memasukkan lolipop itu ke dalam mulutnya.

“Ah kau berdandan untuk menemuiku. Wah, kau terlihat cantik.”

Seo Young berkata ia mendadak ingin mengenak rok musim panasnya jadi itulah yang ia pakai. Enrique sudah mengenal Seo Young dengan baik, seorang yang akan melakukan apapun yang diinginkannya tanpa peduli apapun. Ia mengeluarkan jaket tebal lalu memakaikannya pada Seo Young.

Enrique berlutut untuk menarik resleting jaket Seo Young. Ia menarik retsleting ke atas dan berdiri sangat dekat dengan Seo Young. Pelan-pelan Enrique mendekatkan wajahnya ke wajah Seo Young. Lalu….Hap! Ia mencaplok lolipop yang dipegang Seo Young (well, technically itu memang lolipop Enrique. Tapi eeww…kok bisa ya makan lolipop sama-sama >,<).

Dong Hoon dan Jin Rak berjalan pulang. Dong Hoon heran bagaimana bisa Jin Rak langsung menawarkan ide baru begitu mendapat penolakan. Apakah itu tidak melukai harga diri Jin Rak? Jin Rak berkata tidak ada gunanya berpegang pada harga diri. Apakah marah karena ditolak dan pergi begitu saja bisa disebut menjaga harga diri?

Dong Hoon tak mau berdebat lagi. “Tapi ada apa dengan Flower Boy Next Door? Apa ada cerita di balik ide itu?”

Jin Rak berkata ia sekarang perlu membuat cerita itu. Dong Hoon meminta Jin Rak melihatnya. Dialah flower boy dari ujung rambut hingga ujung kaki. Untuk membuat cerita flower boy kan diperlukan penelitian mengenai flower boy sungguhan.

Dok Mi sedang bekerja di apartemennya. Ia mendapat telepon dari atasannya, Yoo Ha Na. Dok Mi berjanji akan mengirim hasil pekerjaannya setelah makan siang. Ia meminta bagian selanjutnya yang harus ia edit dikirimkan melalui pos.

Sepertinya atasannya menawarkan diri untuk mengantar ke apartemen Dok Mi. Dok Mi buru-buru berkata apartemennya sangat dekat dengan kantor pos hingga ia bisa mengambilnya sendiri.

Dok Mi berusaha mengumpulkan keberanian untuk meminta uang kontraknya di muka. Tapi ia tak sanggup.

Bersambung Part 2 …

Tidak ada komentar:

Posting Komentar