Sabtu, 15 September 2012

Sinopsis Arang and the Magistrate episode 10 part 1





Eun Oh hendak mengejar Arang, tapi langkahnya dihentikan oleh rengekan seorang anak kecil yang meraung-raung memohon bantuan Eun Oh untuk dapat menyelamatkan ayahnya. Sebagai seorang anak yang juga sangat ingin melindungi orang tuanya, Eun Oh harus melakukan sesuatu.



Menyelamatkan ayah dari anak kecil itu, mungkin akan dapat mengurangi rasa bersalahnya. Ia tau dengan betul, bagaimana rasanya menginginkan kasih sayang dari seorang ayah. Eun Oh membalikkan badannya dan menatap anak yang tengah menangis itu.

Ada yang tengah penasaran tentang hubungan antara Arang dan Eun Oh. Joo Whal, pria yang bekerja di bawah suruhan Shaman tertinggi ini menanyakan hubungan yang terjalin antara Eun Oh dan Arang. Arang berpikir kelas, skill berbohongnya di asah kali ini. Ia menjawabnya dengan panjang lebar, dan terdengar sangat rumit. Dimulai dari ayah Arang yang bertemu Eun Oh, yang kemudian demi keluarganya ayah Arang meminjang uang dari Eun Oh. Dipinjamilah Arang dan keluarganya uang dan diberikan sebuah rumah. Hanya itu hubungan di antara mereka, engga lebih.

Arang bertanya sebenarnya bantuan seperti apa yang sebenarnya Joo Whal inginkan dari Arang? Eun Oh engga menjawabnya dengan pasti, ia hanya tersenyum. Hei, wajah dingin itu berubah menjadi hangat karena senyuman, entah bagaimana caranya, kehadiran Arang selalu membuat Joo Whal tersenyum.


Eun Oh mengubah haluannya, hendak membantu ayah dari anak kecil tersebut. Ia mengendarai kudanya dengan cepat, berlomba dengan waktu. Dan Dol Swi ikut bersama Eun Oh. Bila sesuatu yang buruk terjadi, maka orang pertama yang akan Eun Oh salahkan adalah Dol Swi. Karena Dol Swi yang membuatnya peduli pada keadaan. Engga ingin disalahkan, Dol Swi melempar kesalahan pada Arang, ia mengatakan hal-hal tentang Arang yang tengah bersama Joo Whal dan hal itu membuat Eun Oh kesal mendengarnya.


Joo Whal menepati janjinya, ia membuatkan hanbok baru untuk Arang. Wanita penjual baju itu, memperhatikan Arang dan sepertinya ia pernah melihat Arang sebelumnya. Tanpa menyinggung apapun, wanita itu memuji kecantikan alami yang dimiliki Arang.


Kenapa Joo Whal membuatkannya baju baru seperti ini, Joo Whal engga menjawab apapun atas pertanyaan tersebut, lagi-lagi ia hanya tersenyum.

Wanita penjahit mulai mengukur tubuh Arang untuk kepentingan hanbok barunya nanti. Sementara Joo Whal menunggu Arang, Arang teringat bagaimana Eun Oh pernah melakukan hal yang sama. Mengukur ukuran tubuh Arang, dan perasaan yang ada saat itu kembali dirasakan oleh Arang. Hal itu membuat Arang bergumam mengenai perasaannya yang membawa dirinya kembali mengingat Eun Oh. Beberapa waktu lalu hal yang sama terjadi seperti ini, seorang pria membuatkannya hanbok baru setelah Arang mengalami banyak permasalahan.

Wanita penjahit itu menyahut, untuk membuat pria pelit seperti itu. Bagaimana bisa, seorang pria membuatkan pakaian untuk seorang wanita hanya setelah mereka mengalami keadaan yang sulit. Seorang pria harusnya memberikan hanbok baru, dengan tanpa diminta oleh sang wanita. Bila Arang melakukan apa yang wanita penjahit itu suruh, maka hidup Arang akan sangat makmur. LOL.


Sebelum berani mengeluarkan kata-kata untuk mengomentari Joo Whal, wanita penjahit itu mengawasi Joo Whal, berharap ia engga mendengar apa yang dikatakan olehnya. Wanita penjahit merasa penasaran, sebenarnya niat seperti apa yang tengah Joo Whal miliki. Ini kali pertamanya Joo Whal melakukan hal ini, membuatkan hanbok khusus untuk seorang wanita.


Kalau seorang pria merasa sangat khawatir terhadap seorang wanita, maka wanita itu memiliki tempat yang khusus di hati pria tersebut. Terlebih bila sang pria merasa bersalah, itu artinya pria tersebut sangat tertarik kepada sang wanita dan pada akhirnya ia akan menyatakan perasaannya. Aww.. Kata-kata wanita penjahit itu malah membuat Arang berandai-andai mengenai Eun Oh yang berada di belakangnya untuk mengukur ukuran tubuhnya. Aww.. Arang terkejut saat mengetahui tanpa sengaja ia membawa bayang-bayang Eun Oh bersamanya. Love.


Joo Whal menyadari obsesi Arang pada makanan, ia memperhatikan Arang yang lebih memperhatikan deretan makanan di pasar tradisional itu. Joo Whal bertanya, apakah Arang menginginkan makanan itu. Tanpa banyak kata, Arang mengambil makanan yang ingin ia makan, karena semuanya akan dibayari oleh Joo Whal. LOL.


Buah persik! Arang mengambil buah persik yang paling mahal dan memakannya dengan lahap. Memakan makanan sesukanya di saat itu juga, bisa jadi heaven bagi Arang.

Eun Oh sampai di kediaman Officer Choi dan pengawal pribadi Officer Choi memberikan pengumuman mengenai kedatangan Eun Oh. Melihat kedatangan Eun Oh, hal itu menyulut amarah Officer Choi. Berani-beraninya Eun Oh datang ke tempatnya, setelah apa yang ia katakan mengenai status keluarga Eun Oh. Eun Oh membalasnya, ia datang ke kediaman Officer Choi tentu saja untuk melaksanakan tugasnya sebagai hakim.


Bukankah ia harus melayani penduduk Miryang yang meminta bantuannya. Eun Oh menjelaskan bahwa seorang anak kecil datang kepadanya dan mengatakan bahwa ayahnya berada di bawah hukuman Officer Choi. Bukankah itu sudah melanggar aturan pemerintahan Miryang yang telah ditetapkan. Semua hal yang berkaitan dengan peristiwa kriminal yang terjadi di Miryang, maka Eun Oh lah yang seharusnya ikut campur tangan. Officer Choi engga memiliki kekuasaan apapun untuk mengambil alih tugas Eun Oh sebagai hakim.


Engga hanya sampai di situ, Eun Oh menyinggung peraturan pemerintahan Miryang. Bila Officer Choi tetap melakukan penganiayaan terhadap penduduk Miryang, maka Officer Choi melanggar peraturan raja. Bukan hanya Officer Choi yang geram, tapi pelayan pribadi Officer Choi menatap tajam ke arah Eun Oh.


Akhirnya, usaha Eun Oh engga sia-sia. Engga ingin Eun Oh masuk ke wilayahnya, Officer Choi dengan paksa membebaskan ayah dari anak kecil tersebut. Di luar gerbang para penduduk Miryang berkumpul, ini kali pertama Miryang dihebohkan oleh seorang hakim yang berani menghadap dan menantang Officer Choi seperti Eun oh.

Eun Oh mengenali pria tersebut, pelayan pribadi Officer Choi menatap tajam ke arah Eun Oh, dan ia mulai mengolok-olok Eun oh. Eun oh yang kesal lalu memukulnya. Dol Swi yang melihat hal tersebut bergegas melindungi tuannya, ada apa ini kenapa pelayan Officer Choi memukul tuannya seperti itu. Dol Swi geram, tapi Eun Oh yang ingin memperpanjang masalah sepel ini, menyuruh agar Dol Swi membiarkannya saja.


Eun Oh menantang pelayan pribadi Officer Choi tersebut, karena ia masih saja mengolok-olok perihal status Eun Oh dalam keluarganya. Eun Oh engga ingin mengurus masalah sepele dengan pelayan pribadi Officer Choi.



Officer Choi mengatakan pada Eun Oh, bahwa engga akan mudah untuk menjadi hakim di Miryang. Akan ada banyak bahaya yang akan menurunkannya. Eun Oh hanya menatap Officer Choi dengan tatapan menantang.

Setelah Eun Oh pergi, Officer menyuruh pelayan pribadinya untuk menyembunyikan semua persediaan makanan yang ia miliki.

Saat hendak meninggalkan kediaman Officer Choi, Dol Swi memberitahukan alasan kenapa ayah dari anak kecil tersebut dihukum oleh Officer Choi. Seraya membantu Eun Oh menaiki kudanya, Dol Swi mengatakan bahwa semua permasalahan dimulai dari tingginya biaya pajak di Miryang. Officer Choi menaikan pajak beberapa kali lipat dari yang telah ditentukan dan hal tersebut amat sangat memberatkan warga.

Para warga berpikir untuk mengatakan permasalahan ini kepada Hakim Kim Eun Oh, tapi sifat Eun Oh yang engga ramah telah menyebar ke seluruh Miryang. Untuk itu, para warga mengurungkan niatnya. Bukan hanya itu, mereka juga takut pada Officer Choi, sehingga mereka engga bisa melakukan apapun. Mendengar hal tersebut, Eun Oh berpikir keras. Ide brilliant muncul di otaknya. Ia segera menyuruh Dol Swi untuk menyebarkan berita rumor mengenai suatu hal ke seluruh penduduk Miryang.


Rumor menyebar dan tiba-tiba saja wilayah pemerintahan dipenuhi oleh para warga yang mengambil seluruh persediaan bahan makanan yang ada di tempat tersebut. Ternyata Eun Oh menyuruh Dol Swi untuk menyebarkan rumor mengenai pembagian bahan makanan gratis di wilayah pemerintahan, kepada para warga. Pfft..


Dol Swi yang kali ini benar-benar merasa khawatir. Eun oh engga seharusnya mengganggu Officer Choi, terlebih semua bahan makanan itu bukankah milik Officer Choi. Eun Oh yang melakukan hal ini, maka akan membuat Officer Choi murka, pikir Dol Swi. Eun Oh hanya bergumam, bahwa ucapan Officer Choi itu salah, menjadi hakim itu bukan pekerjaan yang sulit. Lihat saja kali ini, permasalahan kelaparan di wilayah Miryang terselesaikan hanya dengan satu tindakan. Mudah bukan, pikir Eun Oh.


Dol Swi yang khawatir, mengatakan pada Eun Oh untuk kembali menjadi dirinya sendiri. Lakukan hal yang biasa ia lakukan, jangan menentang apapun, karena Dol Swi sangat takut kehilangan Eun Oh.

Trio ahjusshi terkejut saat melihat para penduduk Miryang membawa tumpukan bahan makanan yang berasal dari wilayah pemerintahan. Mereka sama sekali engga mengetahui apa yang tengah terjadi. Dengan terburu-buru para ahjusshi tersebut berlari masuk ke dalam wilayah pemerintahan.

Trio Ahjusshi panik melihat persediaan makanan di kediaman hakim hilang dan engga ada yang tersisa. Dol Swi yang tengah membereskan tempat tersebut dikejutkan dengan pertanyaan trio Ahjusshi, apa yang terjadi, mengapa penduduk mengambil makanan milik pemerintahan? Dol Swi menjawabnya dengan ringan, semua itu atas kehendak dan perintah Eun Oh.

Dol Swi menjelaskan bahwa tuannya-Hakim Kim Eun Oh hanya ingin menjadi seorang hakim yang adil dan berada di jalan yang benar. Lagi pula bahan makanan itu bukankah milik pemerintahan yang berarti juga milik para warga, bukan? Trio Ahjusshi membentak Dol Swi, bahan makanan itu engga seharusnya dibagikan kepada masyarakat dan Eun Oh dilarang melakukan hal tersebut.



Dol Swi geram, siapa trio ahjusshi yang berani-beraninya memerintah tuannya seperti itu. Dibentak seperti itu membuat trio Ahjusshi pun kesal, ia memaki Dol Swi dan menyebutnya sebagai "budak dari seorang budak". Kemudian mereka menyadari bahwa Eun Oh tengah berdiri di dekat mereka dan mendengar semua pembicaraan tersebut.

Setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh trio Ahjusshi, Eun Oh teringat perkataan Officer Choi, akan sangat sulit untuk mendapatkan kepercayaan kembali dari para bawahannya. Untuk menjernihkan pikirannya Eun Oh kembali ke kamar.


Dol Swi memukul trio ahjusshi sekuat tenaga. "Budak dari seorang budak", kata-kata itu benar-benar sangat menyakitkan, bukan bagi Dol Swi tapi Eun Oh. Kata-kata yang engga ingin di dengar oleh Dol Swi, karena kata-kata itu akan meremukkan hati Eun Oh. Trio ahjusshi dapat memaki tuannnya dengan kata apapun yang mereka inginkan, tapi jangan menggunakan kata "budak dari seorang budak".
Flashback.


Saat Dol Swi kecil dipukuli oleh beberapa anak bangsawan yang telah memaki Eun Oh, ia menerima pukulan itu. Tapi kesabarannya habis saat mendengar kata "budak dari seorang budak" yang dilontarkan oleh seorang pria bangsawan. Pria itu juga mengatakan bahwa Eun Oh adalah seorang bangsawan yang engga mengetahui tempatnya, ia akan selalu dalam bahaya nanti karena engga mengetahui betapa kejamnya dunia di luar sana.

Dol Swi yang habis kesabarannya lalu bangkit, menggunakan anyaman yang ia miliki untuk melindungi diri dan ia berkata bahwa Eun Oh akan menjadi seorang bangsawan yang benar dan semua yang dikatakan oleh pria itu adalah salah. Jangan pernah memaki Eun Oh dengan sebutan budak.


Dol Swi menggendong Eun Oh kecil untuk pergi dari tempat itu. Sweet.
End Flashback.


Dol Swi masuk ke ruangan Eun Oh, ia meminta pada Eun Oh untuk segera pergi dari sini. Ia engga ingin lagi mendengar makian tersebut. Seraya mengganti pakaiannya, Eun Oh menasehati Dol Swi untuk mengerjakan tugasnya, bukankah tugas Dol Swi adalah untuk menjaga Eun Oh dan ayahnya. Setelah berganti pakaian, Eun Oh mengendarai kudanya, menuju ke suatu tempat. Menyendiri.


Bang Wool kembali dikejar-kejar oleh trio ahjusshi, untung saja penyelamatnya datang. Dol Swi.

Eun Oh mengendarai kudanya, menyendiri, melalui ilalang dan bukit-bukit di Miryang. Semua makian yang dilontarkan oleh Officer Choi terngiang di pikiran Eun Oh. Dan mengenai ibunya yang merupakan seorang budak.



Eun Oh mengingat masa kecilnya, sulit bagi Eun Oh untuk sekedar mendapat pelukan hangat dari sang ibu. Ibu Eun Oh hanya menelantarkannya dan membiarkannya dalam keadaan sedih.

Malam harinya, Arang masih menikmati kebersamaannya bersama Joo Whal. Membelikan banyak makanan untuk Arang benar-benar membuat Arang senang bukan kepalang. Setiap kali mereka melihat pedatangan makanan, Arang selalu menyempatkan diri untuk memakan jajanan jalanan tersebut. Selalu seperti itu, dan Joo Whal pun engga merasa keberatan untuk membayarkan semua makanan yang Arang makan.


Di sisi jalan, Arang menikmati makanannya. Dua pengemis berbeda alam menunggunya berbagi makanan. Seorang Sehantu hantu miskin dan seorang manusia pengemis. Siapa yang mendapat bagian makanan dari Arang. Tentu saja sang Hantu.



Dengan penuh kepedulian, Arang membagi makanannya kepada hantu pengemis tersebut. Lalu memberikan sedikit makanan pada seorang manusia pengemis. Joo Whal hanya melihatnya dengan tatapan aneh tanpa terkejut, dan berpura-pura untuk engga mengetahui hal tersebut.

Hantu tersebut melambaikan tangan ke arah Arang, dengan tersenyum senang, Arang membalas lambaian tersebut. Ia pernah berada di posisi tersebut saat dulu masih menjadi hantu, mengemis, kelaparan dan kelaparan dan kelaparan dan kelaparan :p


Karena penasaran, Joo Whal bertanya mengenai nafsu makan Arang yang sangat tinggi. Arang hanya menjawab bahwa ini hanya sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang engga bisa ia tinggalkan, setiap kali ia menemukan makanan pasti ia akan memakannya.


Entah kenapa Arang selalu merasa lapar sepanjang hari, belum lagi Eun Oh yang jarang sekali memperhatikannya. Kalau Eun Oh engga merasa lapar, pasti akhirnya Arang akan kelaparan juga, Eun Oh sama sekali engga mempedulikan bila orang lain kelaparan. 
 Tapi tiba-tiba, Arang memikirkan Eun Oh. Bagaimana kalau Eun Oh belum makan sampai saat ini karena ia merasa tertekan, bagaimana kalau Eun Oh pingsang. LOL.


Joo Whal mengantarkan Arang pulang. Di sepanjang perjalanan pulang Arang mengatakan niatnya yang sebenarnya. Ia bukan tipe wanita yang memanfaatkan orang lain, bukan juga seseorang yang mudah untuk mengiyakan sebuah permintaan. Tapi untuk hari ini, ia berterimakasih kepada Joo Whal. Karena berkat Joo Whal ia mendapatkan banyak sekali kesenangan, banyak makanan yang ia makan dan sebuah hanbok baru.


Tenang saja, Arang engga ingin ada sebuah hutang budi, jadi Arang berjanji untuk mengganti semua yang telah Joo Whal berikan. Ia akan membayarnya secara bertahap, berikut bunganya. Arang memiliki banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Joo Whal, tapi entah kenapa ia belum siap untuk menanyakan hal itu padanya, ungkap Arang pada Joo Whal.

Eun Oh yang kebetulan melewati jalan yang sama dengan Arang dan Joo Whal, menghentikan kudanya. Ia menatap bergantian ke arah Arang dan Joo Whal. Joo Whal yang ditatap seperti itu langsung menjawab bahwa ia akan mengantarkan Arang karena malam sudah larut.


Dengan canggung, tanpa mendengarkan perkataan Joo Whal. Eun Oh mengulurkan tangannya, untuk membantu Arang naik ke atas kuda. Eun Oh mengendarai kudanya, dan Arang melambaikan tangan ke arah Joo Whal. Ia mengucapkan terimakasih, berharap agar Joo Whal sampai di kediamannya dengan selamat, jangan lupa, malam hari seperti ini selalu ada orang jahat jadi Joo Whal harus berhati-hati. Arang menasehati Joo Whal, selagi kuda berjalan menjauh. Mendengar nesehat Arang, Joo Whal hanya tersenyum kecil. Senyum yang langsung menghilang ketika Arang dan Eun Oh mulai menjauh.


Eun Oh membawa Arang ke sisi danau, kegalauan membawanya ke sana (penulisna nu galau tah! Ih meuni gararalau.) Ada banyak hal yang ingin Eun Oh tanyakan, tapi Eun Oh menjawab bahwa ia mengajak Arang ke pinggir danau  hanya untuk mencari udara segar. Eun Oh akhirnya bertanya, seberapa jauh Arang menceritakan hidupnya kepada Joo Whal. Arang menggelengkan kepalanya. Misinya kali ini untuk bertanya pada Joo Whal gagal. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar