Sabtu, 11 Mei 2013

Sinopsis Gu Family Book Episode 10 Part 2


Gon kembali ke sekolah Dam dan mengabarkan kalau rencana mereka gagal, ruang rahasia itu telah diketahi, bahkan ia pun juga tak dapat membantu Tae Soo.
Puhleasee… Gon, siapa yang tadi meninggalkan Tae Soo di sana?


Guru Dam merasa kecewa karena semua usaha mereka akhirnya sia-sia. Tapi si tukang kayu memberitahukan kalau mereka masih punya harapan karena ada satu orang yang masih tersisa di dalam.
Satu orang itu, siapa lagi kalau bukan Kang Chi yang ternyata masih berada di dalam ruang rahasia.
Guru Dam tak pernah mengikutsertakan Kang Chi ke dalam rencana mereka, jadi hanya satu orang yang mungkin memberitahu rencana itu. Maka ia pun pergi ke ruangan Yeo Wool.
Tersangkanya sedang memeriksa nadi Yeo Wool. Guru Gong Dal memberitahu kalau nadi Yeo Wool sudah kembali normal. Tapi Guru Dam malah mengatakan tentang keberadaan Kang Chi di Penginapan 100 tahun. Guru Gong Dal malah berujar kalau ia sudah memberikan ginseng merah agar Yeo Wool lebih cepat pulih. Tapi Guru Dam malah bertanya apakah Guru Gong Dal yang memberitahukan rencana mereka pada Kang Chi?
Ha.. dua topik yang nggak nyambung. Guru Dam akhirnya setengah menegur dan memanggil, “Guru..”  Guru Gong Dal pun akhirnya menjawab kalau ia tak mengirim Kang Chi ke penginapan. Ia tak tahu mengapa Kang Chi pergi ke penginapan, “Aku hanya bertaruh dengan anak itu.”
Guru Dam bingung mendengar kata taruhan. Tapi Guru Gong Dal hanya nyengir tanpa menjawab kebingungan Guru Dam.
Hmm.. taruhan seperti apa, ya? Tapi yang kita lihat selanjutnya adalah Kang Chi berdiri di ruang rahasia yang penuh perak. Ia meregangkan lehernya untuk pemanasan dan sambil tersenyum ia pun berkata, “Sekarang.. haruskah kita mulai sekarang, .. Kakek tua?”
Keesokan paginya pegawal Seo menerobos masuk ke Chunhwagwan untuk menemui Jo Gwan Woong. Jo Gwan Woong langsung terbangun saat diberitahu kalau ruang rahasia itu telah ditemukan.
Mereka pun langsung kembali ke Penginapan 100 tahun. Namun di depan penginapan, mereka melihat kalau para pelayan membawa tumpukan yang katanya adalah beras untuk dikirim ke Angkatan Laut.
Pelayan Choi menjelaskan kalau sudah merupakan kebiasaan bagi orang-orang kaya di desa ini untuk menyumbangkan beras untuk Angkatan Laut Joseon. Beras itupun mulai diangkut pergi. Pengawal Seo memandangi tumpukan itu, tapi ia tak berkata apapun dan mengikuti Jo Gwan Woong masuk.
Pelayan Choi dan Hong Man menghela nafas lega. Sepertinya rencana mereka berhasil.
Di ruangan Tuan Park, Pengawal Seo menggeser lukisan dan juga pintu rahasia. Mata Jo Gwan Woong berbinar-binar dan ia menolak tawaran Pengawal Seo yang ingin memandunya. Ia ingin memeriksanya sendiri.
Bagai Zafar yang masuk ke goa harta, Jo Gwan Woong masuk ke dalam ruang rahasia itu. Betapa kagetnya ia setelah melihat isi ruangan itu. Ia berteriak memanggil pengawal Seo yang buru-buru datang, “Apakah ini perak yang kau katakan?!”
Ruangan itu masih gelap dan Pengawal Seo pun menyalakan obor di tiang. Saat api obor menerangi ruangan, ia tersentak kaget. Tumpukan perak yang kemarin malam dilihatnya telah lenyap!
Pengawal Seo menatap ruangan itu tak percaya. Semua kotak telah lenyap. Bahkan tumpukan kotak yang tersusun di pinggir pun juga ikut lenyap.
Jo Gwan Woong menggeram saat bertanya bagaimana mungkin semua ini terjadi? Pengawal Seo menjawab kalau ia telah memerintahkan anak buahnya agar terus menjaga pintu rahasia itu. Jo Gwan Woong melihat karung beras dan ia langsung teringat tentang tumpukan beras yang dibawa ke markas Angkatan Laut.
Ia pun mulai menggabungkan satu per satu dan menggeram marah, “Bajiangan-bajingan itu!”  Ia menyuruh Pengawal Seo untuk menyeret pelayan Choi dan Hong Man ke hadapannya.
Keduanya pun dipaksa untuk mengaku isi karung yang dibawa ke markas Angkatan Laut. Pelayan Choi menjawab seperti yang ia katakan tadi kalau karung itu adalah bahan makanan untuk militer.
Tapi Jo Gwan Woong sudah tak percaya. Ia menendang dan menginjak kepala pelayan Choi, mengancamnya, “Jika yang ada di karung itu bukanlah makanan, aku sendiri yang akan memotong lidahmu dan mematahkan tanganmu.”
Jo Gwan Woong menyuruh semua pengawalnya untuk mengikutinya, “Aku sendiri yang akan mendatangi markas Angkatan Laut itu.”
Ditinggalkan pergi oleh Jo Gwan Woong, pelayan Choi malah menatap Hong Man dengan tersenyum dan mengisyaratkan sesuatu. Hong Man pun mengerti dan buru-buru pergi.
Di markas Angkatan Laut, LaksamanaLee Soon Shin mulai mengkhawatirkan tentang persedian makaan mereka yang mungkin tak akan cukup jika terjadi perang. Oleh karena itu ia berencana untuk menimbun bahan makanan. Ia pun berencana untuk menginspeksi kantong-kantong pertahanan di berbagai tempat dan meminta bawahannya untuk bersiap-siap.
Mendadak salah satu tentara masuk dan meminta agar LaksamanaLee keluar karena ada hal yang mendesak. Ternyata hal yang mendesak itu adalah Jo Gwan Woong yang membawa lengkap pasukannya. Melihat tumpukan karung di hadapannya, Jo Gwan Woong pun semakin yakin.
Saat LaksamanaLee datang menemuinya, Jo Gwan Woong mengatakan kalau ia telah kehilangan barang yang mungkin terselip dalam karung yang dikrimkan oleh  orang dari penginapannya. Saat ditanya barang apa itu, Jo Gwan Woong tak mau menjawab tapi ia ingin memeriksa barang itu sendiri.
Lee Soon Shin pun menyuruh anak buahnya untuk minggir. Walaupun enggan, mereka pun menurut. Dan sekarang ganti anak buah Jo Gwan Woong yang mengerubuti karung beras itu. Dengan pedang, mereka merobek karung-karung itu.
Karung itu ternyata benar berisi .. beras. Tapi para pengawal itu tak putus asa. Mereka mengoyak karung beras itu semakin dalam, membuat para tentara mengeluh kesal karena bahan makanan itu terbuang sia-sia.
Ceceran beras di tanah itu meruntuhkan keyakinan Jo Gwan Woong, namun ia mencoba menutupinya.
Di dalam ruang rahasia, Pelayan Choi memanggil putranya dan memberitahukan kalau semua pengawal sudah pergi seperti dugaan Kang Chi. Ia pun bertanya apakah perak-perak itu aman?
Kang Chi tersenyum mengangguk dan menyibak kain besar di belakangnya. Dan tampak tumpukan kotak yang berisi perak memenuhi dinding paling dalam di ruang rahasia itu.
Whoaaa.. cool. Tipuan dibalik tipuan..

Pelayan Choi terkejut melihat banyaknya kotak itu. Kang Chi pun tersenyum dan berkata, “Sekarang, apa kita bisa pergi?”
Para pengawal Seo bingung melihat karung-karung yang ternyata memang berisi beras itu. Begitu pula Jo Gwan Woong.
Tapi tidak dengan Laksamana Lee. Ia menghardik Jo Gwan Woong yang tak menemukan barang yang ia cari, dan bahkan membuang bahan makanan yang bisa mencukupi pangan tentara selama sebulan. Walau tahu salah, tapi Jo Gwan Woong  tetap sombong dan mengatakan kalau ia akan mengirimkan gantinya nanti walau ia merasa sia-sia memberi makan tentara pada saat kerajaan tidak dalam keadaan perang.
Laksamana Lee pun marah mendengar ucapan Jo Gwan Woong. Ia menyuruh anak buahnya untuk mengambil seluruh beras yang jatuh ke tanah karena beras itu adalah hasil jerih payah rakyat, “Mulai sekarang, kita tak akan menerima apapun dari Penginapan 100  Tahun. Dan juga, aku melarang orang dari Penginapan untuk melangkahkan kakinya ke markas kita ini. Mengerti?”
Para tentara mengepung mereka agar mereka pergi. Pengawal Seo melihat kembali karung-karung itu, seakan tak mengerti kenapa bukan perak yang ada di dalam karung itu. Jo Gwan Woong pun juga diam, bukan termenung oleh ucapan Lee Soon Shin tapi lebih pada hilangnya perak itu.
Mendadak ada suara di belakangnya yang menyapa mereka, “Apa yang sedang kalian lakukan di sini?” Jo Gwan Woong menoleh dan melihat Kang Chi berdiri dengan membawa tiga gerobak pengangkut.
Kang Chi menyayangkan beras yang berceceran dan berkata kalau Jo Gwan Woong pasti akan masuk neraka karena menyia-nyiakan makanan.
Jo Gwan Woong kesal melihat Kang Chi, “Sialan. Kenapa kau ke sini dan menggangguku?”
 “Aku hanya sedang menjalankan tugas dari almarhum Tuan Park,” jawab Kang Chi sambil tersenyum. Dan ia pun melenggang santai melewati mereka dengan ketiga gerobak itu.
Haha… keren.. Seneng banget lihat ekspresi Jo Gwan Woong dan pengawal Seo saat melihat ketiga gerobak itu. Mereka pasti menebak-nebak apa mungkin.. apa mungkin ..
Pengawal Seo maju untuk menghadang Kang Chi, tapi salah satu tentara menghunus pedang ke lehernya dan menyuruhnya berhenti karena sesuai perintah kalau orang dari penginapan tak boleh melangkah masuk ke dalam.
Pengawal Seo pun bertanya dengan marah, “Bagaimana ini bisa terjadi? Aku bahkan tak membiarkan seekor tikuspun masuk ataupun keluar. Bagaimana kau bisa mencuri perak-perak itu?”
Kang Chi mendekat dan menjawab, “Apa kau belum tahu? Aku kan bukan manusia,” Kang Chi menoleh pada Jo Gwan Woong dan memberi senyumannya.
Jo Gwan Woong berusaha untuk kelihatan tenang walau dia marah luar biasa. Beratus-ratus perak yang ada di kotak-kotak itu hampiirr… saja bisa menjadi miliknya, namun sekarang melenggang pergi tepat di bawah hidungnya sendiri.
Ia meluapkan kemarahannya saat berada di ruang rahasia yang sudah tak ada rahasianya lagi. Ia berteriak dan melempari kotak-kotak kosong di dinding.
Sementara itu kotak yang berisi perak sekarang sedang diraba oleh Lee Soon Shin. Ia berterima kasih pada Kang Chi karena telah membawanya kemari. Kang Chi menjawab kalau ia hanya menjalankan wasiat dari almarhum Tuan Park. Dan juga, “Bukti yang saya inginkan kemarin..Dapatkah Anda memberikan pada saya?” tanya Kang Chi sedikit ragu.
“Tentu saja. Janji adalah janji. Aku akan memberikannya padamu,” jawab Lee Soon Shin yang membuat Kang Chi menghela nafas lega.
Yang kita lihat berikutnya adalah wajah Guru Gong Dal yang terharu melihat topi LaksamanaAngkatan Laut Joseon ada di tangannya. Ia tertawa kegirangan saat mengagumi topi itu.
Kang Chi tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan gaya, ia memamerkan hubungannya dengan Laksamana yang memang sedekat itu. “Beliau tak meminjamkan topi itu ke sembarang orang.”
LOL, ternyata perak-perak itu adalah barter untuk topi ini toh.. kekeke..
Guru Gong Dal mengangguk-angguk. Ia pun mengangkat topi itu untuk ia pakai, tapi Kang Chi buru-buru mencegahnya, “Eh.. hati-hati.. Saya harus mengembalikan topi ini besok pagi.”
Guru Gong Dal memakaikan topi itu ke kepalanya dan kembali tertawa kegirangan, “Bagaimana tampangku? Dengan topi ini aku kelihatan oke, kan?” tanyanya. Saat Kang Chi menawarinya untuk dibelikan topi baru lainnya, Guru Gong Dal mengatakan kalau sekarang satu dari tujuan hidupnya telah tercapai. Dan Guru Gong Dal pun sekarang akan memenuhi apapun permintaan Kang Chi.
Mata Kang Chi berbinar-binar. Apa sih permintaan Kang Chi?
Mata Kang Chi semakin berbinar-binar menyambut yang ia harapkan, “Ayam! Senang sekali bertemu denganmu!”
Gubrak.. dan topi itu adalah barter untuk ayam? Jadi perak seharga 5000 nyang ditukar dengan ayam? LOL.
Seperti Guru Gong Dal tadi, Kang Chi pun tertawa kegirangan saat menyantap makanan yang ia idam-idamkan.
Dua orang ini..  Mereka sama-sama kegirangan mendapatkan barang yang mereka inginkan.
Dari kejauhan Guru Dam menyaksikan Kang Chi yang makan ayam dengan lahap. Pada Gon, ia berkata 
"Mungkin pendapat Laksamana yang mengatakan kalau Kang Chi adalah faktor keberuntungan kita itu ada benarnya. Atau mungkin karena Laksamana-lah yang membuat Kang Chi menjadi seperti itu.”
Pengawal Seo berhasil memaksa Tae Soo untuk mengaku kalau selama ini ia bersembunyi di Sekolah Bela Diri Moohyung yang berhubungan erat dengan Laksamana dan ia tinggal bersama Kang Chi. Setelah mendapat laporan itu, Jo Gwan Woong malah menyuruh untuk melepaskan Tae Soo dan memerintahkannya untuk mencari tahu rencana Laksamana dengan uang 5000 nyang itu.
Tae Soo tak mau. Ia memilih disiksa daripada menjadi anjing pesuruh Jo Gwan Woong. Tapi Jo Gwan Woong punya kartu As lain, “Pikirkanlah adikmu yang sudah dijual menjadi gisaeng negara. Jika kau tak kembali saat matahari terbenam besok dengan membawa informasi itu, adikmu yang akan menerima akibatnya.”
Dulu Tae Soo melihat Chung Jo diseret pergi dari penjara. Tapi sepertinya ia tak menyangka kalau adiknya benar-benar menjadi gisaeng. Di Chunhwagwan, Tae Soo melihat dengan mata kepala sendiri kalau Chung Jo tak hanya dijadikan gisaeng, tapi juga pesuruh.
Bahkan saat itu ada pelanggan mabuk yang menabrak Chung Jo, bukannya minta maaf, pelanggan itu malah memarahi Chung Jo.
Tae Soo menangis melihat adik yang ia sayangi itu berkali-kali membungkukkan badannya, minta maaf pada pelanggan namun hanya hinaan yang ia terima.
Yeo Wool akhirnya tersadar walau heran mengapa ia bisa ada di kamarnya sendiri. Dan yang pertama diingatnya adalah perak 5000 nyang itu. Ia pun segera bangun dan keluar kamar. Orang pertama yang ia lihat adalah Kang Chi yang sedang sibuk menyapu halaman.
Ia pun menyapa Kang Chi. Namun hanya setengah nama itu terucap, saat kejadian di ruang rahasia itu terulang kembali. Yeo Wool langsung menutupi dadanya dan berjingkat-jingkat pergi.
Tapi Kang Chi keburu melihatnya. Ia pun memanggil Yeo Wool masih dengan panggilan Dam Gundan memegang dahi Yeo Wool untuk memeriksa suhunya. Ia gembira saat merasakan suhunya sudah kembali normal.
Merasa Kang Chi tak terpengaruh akan kejadian kemarin, Yeo Wool pun melakukan hal yang sama. Ia segera menepis tangan Kang Chi dan bertanya tentang nasib perak-perak itu, “Apakah karenaku, rencana itu gagal?”
Kang Chi menatap Yeo Wool lama membuat Yeo Wool tak sabar dan bertanya lagi, “Apakah benar-benar gagal?” 
Kang Chi pun mencondongkan tubuhnya pada Yeo Wool  dan berkata, “Inilah kenapa aku benar-benar tertipu. Pada situasi seperti ini, biasanya wanita tak akan mencemaskan perak-perak itu. Ya, kan?”
“Ho hoh!” gertak Yeo Wool sehingga Kang Chi menegakkan diri kembali. “Kenapa kau mengubah topik pembicaraan? Aku bertanya apa yang terjadi dengan perak-perak itu?”
Kang Chi menenangkan Yeo Wool dengan mengatakan kalau ia telah mengirimkan perak-perak itu ke pangkalan AL. Yeo Wool gembira dan reflek mengacak-acak rambut Kang Chi.
“Terima kasih.. terima kasih. Kerja yang bagus!”
Kang Chi tertawa menerima pujian itu. Tapi itu hanya sesaat, karena setelah itu mereka saling menarik diri. Kang Chi teringat akan ucapan Yeo Wool yang mengatakan kalau awal pertemuan mereka adalah suatu hal yang tak berarti jika ia tak mengingatnya.Saat itu ia bertanya apakah pertemuan itu menjadi sesuatu yang berarti jika ia bisa mengingatnya? Namun saat ini ia tak memberitahukan Yeo Wool kalau ia sudah bisa mengingatnya.
Yeo Wool melihat telapak tangan Kang Chi yang terluka dan langsung panic bertanya asal luka itu. Apakah luka itu karenanya? Kang Chi diam.
Dan kita melihat bagaimana luka itu terjadi. Di ruang rahasia, Kang Chi pani saat Yeo Wool pingsan di ruang rahasia. Saat ia bingung apa yang harus ia lakukan pada Yeo Wool, ia melihat beberapa butiran cahaya biru muncul dan mengitari luka itu tapi tak menyembuhkannya.
Maka ia pun mencoba dengan mengambil belati milik Yeo Wool dan menggores telapak tangannya. Darah pun keluar dan ia meneteskan darah itu ke luka Yeo Wool. Butiran cahaya biru kembali muncul, kali ini lebih banyak dan menutup luka itu hingga kembali normal seperti sedia kala.
Yeo Wool pun mengetahui kalau karena Kang Chi-lah ia bisa sembuh. Kang Chi tersenyum menenangkan (dengan tangan tergenggam di belakang) namun Yeo Wool meminta Kang Chi untuk tak mengulanginya lagi, “Aku juga tak ingin melihat kau terluka.”
Sejenak mereka berpandangan.
Tiba-tiba terdengar suara Tae Soo memanggil Kang Chi. Mereka menoleh dan mendapati Tae Soo berdiri dengan mata tertutup kain.
Di Chunhwagwan, Jo Gwan Woong tiba-tiba berubah pikiran dan meminta Soo Ryun agar mengirimkan Chung Jo ke kamarnya, “Malam ini, aku akan mengambilnya untuk pertama kali.”
Dan Chung Jo mendengarnya. Nampan yang ia bawa terjatuh. Ia mencoba kuat di hadapan musuhnya, tapi saat sendiri, ia terduduk lemas, tak berdaya.
Di aula Moohyung, Tae Soo berlutut memohon pada Kang Chi untuk mengeluarkan adiknya dari rumah gisaeng itu secepatnya, “Kita tak tahu hal buruk apa yang akan menimpanya nanti. Kumohon padamu, Kang Chi. Kumohon selamatkanlah Chung Jo.”
Tak jauh dari mereka, Yeo Wool berdiri di balik pilar, mendengar semuanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar