Sabtu, 04 Mei 2013

Sinopsis Gu Family Book Episode 8 - 1



Tak hanya menolak tawaran Jo Gwan Woong, Kang Chi juga mengatakan keinginannya untuk mengambil nyawa Jo Gwan Woong. Maka Jo Gwan Woong pun memerintahkan tentara untuk membunuh Kang Chi.
Kang Chi sudah bersiap untuk melepas gelangnya. Tapi belum sempat para tentara itu menyentuh Kang Chi, muncul suara yang menyuruh Jo Gwan Woong mengentikan eksekusi ini. Semua berpaling ke pintu gerbang, heran pada keberanian seseorang yang berani melawan Jo Gwan Woong.


Yeo Wool tersenyum memandang orang itu yang memperkenalkan diri sebagai Lee Soon Shin, pemimpin angkatan laut dari provinsi Jeolla.
Kepala polisi kaget dan segera turun menyambutnya. Ia bertanya alasan Lee Soon Shin datang kemari dan kembali kaget saat Lee Soon Shin menjelaskan kalau kepolisian telah menangkap salah satu orangnya. 
Dan Lee Soon Shin berpaling pada Kang Chi, dengan hangat bertanya, “Apakah kau baik-baik saja, Kang Chi? Aku datang untuk menjemputmu.”
Kang Chi terkejut mendengarnya. Ia teringat bagaimana Tuan Park menitipkan dirinya pada Tuan Lee dan mengatakan kalau ia sudah menganggap Kang Chi sebagai putranya sendiri.
Lee Soon Shin pun tak melupakan kata-kata Tuan Park. Walau Dam Pyung Joon khawatir karena Kang Chi mungkin berbahaya dan membunuh orang yang tak bersalah, ia tetap akan menolong Kang Chi. Jika Kang Chi melakukan sesuatu seperti yang dikhawatirkan Dam Pyung Joon, ia sendiri yang akan membunuh anak itu.
Jo Gwan Woong pun turun tangan dan bertanya, “Apakah Anda ingin menjemput pembunuh ini?”
Lee Soon Shi dengan kalem bertanya, “Dan siapa Anda yang bertanya seperti itu pada saya?”
Ha. Kepala polisi buru-buru memperkenalkan Jo Gwan Woong sebagai asisten menteri yang baru saja pension. Lee Soon Shin pun bertanya mengapa juga Jo Gwan Woong masih ikut menyelidiki padahal sudah pensiun?
Jo Gwan Woong menjelaskan kalau ia adalah saksi yang melihat Kang Chi membunuh Tuan Park. 
Mendengar hal itu,  hati Kang Chi sangat panas dan ia berteriak kalau bukan dirinya  yang membunuh Tuan Park tapi Jo Gwan Woong. Ia langsung meringsek maju, tapi para pengawal langsung meringkusnya lagi dan membuatnya berlutut.
Jo Gwan Wong hanya mendengus mendengar tuduhan itu dan mengatakan Kang Chi berani sekali menuduhnya sebagai pembunuh setelah durhaka pada ayah angkatnya.
Kang Chi semakin marah dan hampir hilang kendali. Tapi mendadak ia merasakan sebuah tangan memegang pundaknya, menenangkannya. Tangan Tuan Lee.
Lee Soon Shin bertanya apakah Jo Gwan Woong memang melihat Kang Chi membunuh Tuan Park? Jo Gwan Woong mengiyakan. Lee Soon Shin pun kembali bertanya apakah Tuan Park itu tak bersalah? Kali ini Kepala Polisi yang menjawab kalau Tuan Park bersalah karena membiayai para pengkhianat.
“Jadi, mengapa kau menangkap Choi Kang Chi sebagai pembunuh?” sergah Lee Soon Shin, membuat senyum Kepala Polisi lenyap. “Jika ia membunuh seorang pengkhianat, berarti itu bukan pembunuhan. Ia malah harus diberi penghargaan. Bagaimana mungkin kau malah melakukan kesalahan dalam menghukum orang?”
Kepala Polisi tergagap-gagap menjelaskan kalau rakyat sangat menghormati Tuan Park-lah maka mereka menangkap Kang Chi agar tak membingungkan rakyat. Tentu saja Lee Soon Shin menganggap tak masuk akal. Mengapa harus memikirkan perasaan rakyat saat pemerintah menangani seorang pengkhianat, “Atau kau memiliki rahasia yang harus ditutupi sehingga mengkambinghitamkan Kang Chi?”
Kepala polisi semakin tergagap saat membantahnya. Maka Lee Soon Shin pun bertanya semakin menyudutkan, “Atau kau menjadikan orang yang tak bersalah sebagai seorang pengkhianat?”
Jo Gwan Woong mencoba menggertak, tapi Lee Soon Shin memberikan dua pilihan, “Apakah Park Mu Sol adalah pengkhianat sehingga Choi Kang Chi bukanlah pembunuh dan malah harus diberi hadiah, atau Choi Kang Chi bersalah yang berarti Park Mu Sol tidak bersalah. Yang mana?”
Kepala polisi bingung dan menatap Jo Gwan Woong yang marah bukan main karena disudutkan seperti ini.
Yeo Wool dan Gon tersenyum melihat keadaan yang sekarang berbalik ini. Gon mengatakan kalau sudah saatnya mereka untuk pergi karena situasi sudah terkendali. Yeo Wool mengepalkan tangan, gembira.
Serasa déjà vu, Kang Chi memandang Tuan Lee dan ingatannya kembali pada almarhum Tuan Park, yang membelanya di depan teman-teman yang mengoloknya. Senyum Tuan Park saat mendengar tawa dan tangisnya saat itu, tak pernah hilang dari ingatan Kang Chi. Dan sekarang, mata Kang Chi berkaca-kaca saat menatap Tuan Lee.
Kepala polisi merasa tak punya pilihan lain kecuali melepaskan Kang Chi. Tapi Jo Gwan Woong kesal karena ia tak berhasil mendapatkan Kang Chi yang mampu melenyapkan 7 orang pengawalnya dan malah diambil oleh Lee Soon Shin. Bagaimana jika nanti malam Kang Chi akan datang dan membunuhnya? Apa Kepala polisi itu tak takut?
Kepala polisi ketakutan, menyadari konsekuensi yang harus ia hadapi jika melepaskan Kang Chi. Maka ia mengusulkan agar Kang Chi tetap dilepaskan namun Lee Soon Shin yang akan bertanggung jawab atas semua tindakan Kang Chi, dengan membuat surat perjanjian.
Dan yang terjadi berikutnya adalah Lee Soon Shin datang ke penjara dan melepaskan Kang Chi. Tapi Kang Chi tak mau. Ia lebih baik mati daripada menjalani sisa hidupnya sebagai orang yang membunuh penyelamatnya, ayahnya dan sekaligus gurunya, “Menyelamatkanku? Lebih baik aku membunuh semua orang yang ada di sini dan kemudian bunuh diri.”
“Kau pikir mati itu sangatlah mudah?” tanya Lee Soon Shin. Kang Chi mengiyakan, membuat Lee Soon Shin bertanya-tanya mengapa Kang Chi tak menghargai kehidupannnya.
“Karena hidupku sekarang tak berarti lagi,” jawab Kang Chi pahit, “Sekarang aku tak lagi menjadi manusia.”
Lee Soon Shin mengatakan kalau ia mengerti. Ia pun mengeluarkan uang 3 nyang, “Berikan masing-masing satu koin ke tiga orang yang ingin kau ucapkan selamat tinggal . Ia menyuruh Kang Chi untuk memberikan uang 3 nyang kepada 3 orang yang akan ditemui Kang Chi sebelum mati. Jika  Kang Chi melakukan hal itu dan kembali ke markas sebelum jam 3 sore, maka ia tak akan mencampuri keputusan yang akan diambil Kang Chi.
Kang Chi bertanya mengapa juga ia harus mendengarkan Lee Soon Shin. Lee Soon Shin mengingatkan kalau ia pernah diminta Park Mu Sol untuk menjaganya dan ia juga berhak karena ia telah menyelamatkan Kang Chi.
Kang Chi terdiam, kali ini mendengarkan dan tak membantah lagi.
Kang Chi pun keluar dari penjara, menghadapi para penduduk yang langsung mundur. Ia berbalik menatap penuh dendam pada Jo Gwan Woong yang berdiri di depan kantor pemerintahan. Tapi Lee Soon Shin muncul di belakangnya, membuat ia teringat akan janji yang ia buat dengan pria itu.
Entah Kang Chi tahu atau tidak, jika sebenarnya Lee Soon Shin pun juga membuat janji dengan Jo Gwan Woong dengan membuat surat perjanjian  bercap darah, yang mengatakan kalau ia bersedia menyerahkan Kang Chi untuk dibunuh dan menyerahkan jabatannya jika Kang Chi terbukti membahayakan jiwa Jo Gwan Woong dan Kepala Polisi.
Para penduduk mundur memberikan jalan pada Kang Chi yang berjalan pergi, tapi Bong Chool mengungkapkan ‘kekesalannya’ karena pemerintah melepaskan pembunuh Tuan Park.
Dam Pyung Joon mengungkapkan kekhawatirannya akan surat perjanjian yang dibuat Lee Soon Shin karena saat ini mental Kang Chi tak stabil dan Kang Chi dapat melukai Jo Gwan Woong sewaktu-waktu. 
Tapi Lee Soon Shin menyerahkan semuanya kepada langit yang membuat takdir karena manusia hanya berusaha sebaik-baiknya, “Aku hanya menunggu langit yang tergerak oleh usahaku.”
Pada kepala pengawalnya, Jo Gwan Woong mengungkapkan keheranannya pada Lee Soon Shin yang bersedia mempertaruhkan nyawa demi Kang Chi. Ia menduga pasti ada sesuatu yang spesial dari Kang Chi dan ia ingin tahu apakah sesuatu itu. Ia memerintahkah pengawalnya (mungkin satu-satunya sekarang) untuk mengawasi Kang Chi tapi tak mengusiknya sampai ia memberi perintah.
Pengawal itu mengingatkan kalau Kang Chi sangatlah berbahaya. Tapi Jo Gwan Woong bersedia melakukannya karena ini merupakan kesempatan untuk mendapatkan Lee Soon Shin dan Kang chi, “Jika Kang Chi sangat berharga, maka aku bersedia menanggung resiko ini. Dan jika kita tak menghentikan laksamana itu, ia akan menjadi lawan besar di kemudian hari. Jika Choi Kang Chi tak bisa menjadi orangku, kita akan membunuhnya.”
Jo Gwan Woong pun bertanya pada persiapan yang telah dibuat oleh pengawal itu. Pengawal itu berkata kalau ia telah menghipnotisnya.
Rupanya orang yang mereka bicarakan adalah Tae Soo. Karena di dalam tidurnya, hipnotis pengawal itu terus menghantui mimpinya. 
Ternyata saat ia pingsan setelah disiksa habis-habisan, pengawal itu meniupkan wewangian di mukanya dan mendoktrin Tae Soo kalau yang membunuh ayahnya adalah Choi Kang Chi.
Ia pun melihat kejadian di malam pembunuhan itu dengan pandangan yang berbeda. Ia melihat Kang Chi berada dibelakang ayahnya, namun dengan pedang yang menusuk ayahnya dari belakang, dan ucapan pengawal itu muncul di mimpinya, “Saat kau melihat Choi Kang Chi, kau akan langsung membunuhnya.”
Tae Soo terbangun dan melihat sekeliling dengan waspada. Rupanya Tae Soo sudah berada di markas Dam Pyung Joon. Ia keluar kamar. Hanya ada satu orang yang sedang menyapu halaman.
Tubuhnya terlalu lemah untuk berdiri sehingga ia terjatuh. Ia teringat pada Chung Jo yang diseret pergi untuk dijadikan gisaeng. Ia juga teringat pada ibunya yang menangis dan terus memeluknya agar ia tak disiksa. Tae Soo menangis mengingat hal itu dan kata-kata itu muncul lagi di telinganya, “Semua ini karena Choi Kang Chi. Semua ini karena Choi Kang Chi. Bunuh dia.”
Namun untuk bangkit saja Tae Soo masih sangat lemah. Ia pun hanya bisa mengepalkan tangannya, meremas tanah dengan penuh dendam dan berteriak, “CHOI KANG CHI!”
Sepanjang perjalanan, Kang Chi merasa ia dibuntuti. Dan ternyata benar. Yeo Wool-lah yang membuntutinya.
Kang Chi pun mencegat Yeo Wool dan menuduh Yeo Wool sedang membuntutinya. Yeo Wool menjawab santai kalau ia tak mengikuti Kang Chi tapi hanya mengawasi, berjaga-jaga agar Kang Chi tak melakukan sesuatu yang bodoh pada Jo Gwan Woong.
“Kalau aku melakukannya, kau pikir kau dapat menghentikanmu?” tantang Kang Chi.
“Kenapa? Apa kau mengira aku tak mampu?” tantang Yeo Wool balik.
“Kalau begitu coba hentikan aku,” kata Kang Chi sambil berjalan pergi.
Yeo Wool langsung menghentikan Kang Chi dan mengingatkan kalau Kang Chi telah memberikan janjinya pada Tuan Lee. Tapi menurut Kang Chi janji itu dibuat oleh orang, sementara ia sudah bukan orang lagi. Yeo Wool mengernyit heran. Tapi Kang Chi mengatakan ini dengan sikap cuek, “Ahh.. iya. Karena ibuku adalah manusia, maka kukira aku itu setengah manusia.”
Yeo Wool menegur Kang Chi, “Kau ini kenapa, sih? Bagaimana jika ada orang mendengarnya?”
Ditegur seperti itu, Kang Chi pun mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada Yeo Wool dan berkata lebih pelan, “Maka dari itu.. berhati-hatilah. Aku tak tahu kapan monster yang ada di tubuhku akan keluar untuk menerkammu.”
Belum sempat Yeo Wool membalas, beberapa barang terlempar ke arah mereka. Ternyata para penduduk yang benci pada Kang Chi yang mereka anggap tak tahu terima kasih karena membunuh Tan Park dan ingin mengusir Kang Chi dari desa mereka.
Mereka pun melempar makanan busuk ke arah Kang Chi. Kang Chi hanya diam saja dilempari seperti itu. Malah Yeo Wool yang berdiri di depan Kang Chi, menjelaskan kalau semua ini adalah kesalahpahaman. Orang-orang menganggap Yeo Wool memihak si pembunuh dan juga melempari Yeo Wool.
Kang Chi segera menarik Yeo Wool pergi dari kerumunan itu. Yeo Wool meminta Kang Chi agar tak sakit hati, “Kau dapat memperbaiki kesalahpahaman ini dan membuktikan kalau Tuan Park tak bersalah.”
“Bagaimana jika aku tak dapat membuktikan kalau Tuan Park tak bersalah? Seumur hidup aku akan divonis sebagai pembunuh Tuan Park,” jawab Kang Chi skeptis.
Kang Chi pun menyuruh Yeo Wool pergi. Namun langkahnya terhenti saat Yeo Wool memberitahukan sesuatu, “Ia ada di Chunhwagwan.” Kang Chi terperangah kaget saat mendengar Yeo Wool menyebutkan nama Chung Jo.
Ia menoleh dan Yeo Wool pun meneruskan, “Aku yakin ia adalah orang yang paling ingin kau temui.”
Chung Jo duduk berjajar dengan calon gisaeng lain. Sementara senior mereka duduk di hadapan mereka. Mewakili para senior, Wol Sun berkata kalau mereka akan mengajarkan tentang minum.
Wol Sun pun menyuruh calon gisaeng itu untuk menuangkan arak ke dalam mangkuk dan meminumnya. Soo Ryun akan mengajarkan tradisi gisaeng, tapi ia berbaik hati dengan mengajarkan cara minum yaitu tanpa menumpahkan setetes pun air dan tanpa mengernyit karena rasa arak itu.
Para calon gisaeng pun mulai meminumnya, walau mereka tetap mengernyit merasakan rasanya. Dan para senior pun menertawakan yuniornya. Wol Sun menoleh pada Chung Jo. Ternyata Chung Jo belum menyentuh mangkuk araknya. “Kurasa permainan ini tak mengasyikkan sama sekali,” kata Chung Jo pelan namun tegas.
Wol Sun marah melihat Chung Jo tak mematuhinya, “Ini bukanlah permainan tapi pelajaran. Apakah kau takut merasakan rasanya yang keras?” Wol Sun pun menyuruh salah satu gisaeng untuk mengambil mangkuk Chung Jo dan membantu Chung Jo untuk mengencerkan arak itu.
Gisaeng di depan Chung Jo mengambil mangkuk itu dan meludah ke dalam mangkuk. Setelah itu ia memberikan pada gisaeng sebelahnya. Satu persatu gisaeng itu meludah ke dalam mangkuk. Eww…
Setelah itu Wol Sun membawa mangkuk itu ke hadapan Chung Jo, dan dengan sinis ia berkata, “Sekarang rasa arak ini tak begitu keras lagi. Sekarang minumlah.”
Chung Jo tetap menolak. Wol Sun terus memaksa Chung Jo, “Jika kau berpakaian seperti gisaeng, kau harus bertindak seperti Gisaeng. Bertingkah sok suci dan sok tinggi, walaupun kau berlaku seperti bangsawan, kau tetap hanyalah seorang gisaeng yang menjual arak dan tubuhnya.”
Tampak sekali Chung Jo marah mendengar kata-kata Wol Sun. Tapi Wol Sun tetap meneruskan, “Kenapa? Kau tak suka minum? Jadi, apa aku harus mengajarkanmu bagaimana melucuti pakaianmu di depan seorang pria? Apakah aku harus melihat bagaimana penampakan tubuh seorang gadis bangsawan?”
Wol Sun meringsek maju tapi Chung Jo menyiram arak penuh ludah itu ke wajah Wol Sun. Go girl! Para gisaeng marah melihat  tindakan Chung Jo dan mereka langsung mengeroyok Chung Jo.
Kang Chi berdiri di depan Chunhwagwan, mempersiapkan diri untuk menemui Chung Jo.
Chung Jo disidang di depan Soo Ryun. Wol Sun langsung menjelaskan kejadian itu dengan versinya yaitu para gisaeng ingin minum bersama dan mengajak para calon gisaeng untuk ikut menikmati arak tapi Chung Jo malah menyiramkan arak itu padanya. Soo Ryun mencoba bertanya pada Chung Jo tapi Chung Jo tak membela diri dan gisaeng lain menyela dengan mengatakan kalau ucapan mereka benar adanya.
Soo Ryun pun menyuruh pelayan untuk membawakan tongkat pemukul. Wajah Chung Jo pucat seketika sementara para gisaeng tertawa-tawa puas.
Maka Chung Jo pun mendapat pukulan tongkat di kakinya, jenis pukulan yang mungkin belum pernah diterima Chung Jo dari kedua orang tuanya. Tapi Chung Jo menerima pukulan itu dengan tabah.
Kang Chi menerobos masuk ke dalam Chunhwagwan, menyingkirkan satu pelayan yang menghalangi jalannya. Ia tak mempedulikan teriakan pelayan yang memanggil penjaga. Ia berjalan masuk ke dalam ruangan Soo Ryun dan menemukan Chung Jo yang sedang dihukum.
Chung terpana melihat kedatangan Kang Chi. Reflek Chung Jo menurunkan roknya saat Kang Chi melihat ke arah kakinya.
Tapi terlambat, karena Kang Chi sudah melihat betapa menderitanya Chung Jo. Ia tak menjawab pertanyaan Soo Ryun dan malah menggandeng tangan Chung Jo dan dengan lembut berkata, “Ayo kita pergi..”
Soo Ryun menghentikan langkah Kang Chi dengan bertanya siapa Kang Chi sebenarnya. Ia juga menyuruh Kang Chi untuk melepaskan Chung Jo. Kang Chi berbalik dan menjawab, “Tempat ini bukan tempat untuknya. Jadi aku akan membawanya pergi.” Ia pun menarik tangan Chung Jo dan meninggalkan para gisaeng itu.
Soo Ryun hanya bisa menghela nafas. Chung Jo mencoba menghentikan Kang Chi dengan memanggil namanya. Tapi Kang Chi sudah bulat keputusannya.
Di depan, sudah menyambut para pengawal Chunhwagwan yang mengepung Kang Chi dan Chung Jo. Chung Jo khawatir melihat para pengawal itu, tapi Kang Chi tak gentar sedikitpun.
Soo Ryun muncul dan memperingatkan kalau mereka akan dipukuli sampai mati jika mereka kabur dan tertangkap. Kang Chi menenangkan Chung Jo kalau ia pasti dapat mengeluarkan gadis itu dari Chunhwagwan. Tapi Soo Ryun mengatakan kalaupun berhasil kabur, Chung Jo tetap akan menjadi buronan, “Kalian akan hidup selalu bersembunyi sebagai penjahat.Hidup seperti orang rendahan. Kau harus bertahan hidup dengan makan tumbuhan”
Pada Kang Chi, Soo Ryun meminta untuk melepaskan Chung Jo sebelum semuanya terlambat. Tapi Kang Chi malah meraih tangan Chung Jo dan menggenggamnya. Soo Ryun menyuruh Kang Chi melepaskan tangan itu, tapi Kang Chi berseru menolaknya, “Aku tak bisa! Aku tak akan pernah melepaskannya.”
Chung Jo menatap Kang Chi yang sudah bersiap untuk bertarung.
Pada para penjaga yang mengepungnya, Kang Chi memperingatkan akan membunuh mereka semua jika ada yang berani menyentuhnya. Kang Chi menggenggam tangan Chung Jo lebih erat lagi dan berkata, “Jangan khawatir, Chung Jo. Aku tak akan membiarkanmu tinggal di sini sendiri lebih lama lagi.”
Air mata Chung Jo menetes mendengar kata-kata Kang Chi. Ia menatap tangan yang menggenggam tangannya. Dan ia menangis saat mendengar Kang Chi berkata, “Percayalah padaku.”
Saat itu juga Chung Jo melepaskan genggaman tangan Kang Chi.
Kang Chi terkejut dan berbalik menatap Chung Jo. Ia mencoba meraih tangan Chung Jo, tapi Chung Jo menghindar mundur dan berkata, “Pergilah.”
Kang Chi bingung akan reaksi Chung Jo, “Aku kemari untukmu. Aku ingin membawamu pergi dari sini.”
“Sebelum kau melakukannya, kau harus bisa membuktikan kalau ayahku memang tak bersalah,” Chung Jo meminta Kang Chi untuk membuat dunia tahu kalau ayahnya tak bersalah. “Saat itu datanglah untuk menjemputku. Sebelum itu terjadi, aku tak akan bergerak selangkahpun dari sini.”
Kang Chi mencoba meraih Chung Jo kembali, tapi Chung Jo tetap bersikeras menyuruh Kang Chi pergi dan ia pun meninggalkan Kang Chi yang masih terpaku.
Soo Ryun berkata pada Kang Chi, “Jika kau ingin membawa anak itu pergi dari sini, pertama-tama pikirkan apa yang harus kau lakukan terlebih dulu.”
Sendirian, Chung Jo menangis, menyadari betapa berat keputusan yang ia ambil ini.  
Kang Chi masih terpaku, tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia pun pergi meninggalkan Chunhwagwan dengan gontai. Ada 3 keping uang di tangannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar