Senin, 15 April 2013

Sinopsis Gu Family Book Episode 2 part 2



Wol Ryung menggenggam tangan istrinya semakin erat, tak menjawab pertanyaan Dam Pyung Joon dan malah berkata, “Saya tak ingin berkelahi denganmu.”

“Apakah kau ingin mengatakan kalau kau melawan, maka kau percaya kalau kau akan menang?” tanya Dam Pyung Joon menyudutkan.
Wol Ryung mencoba berdalih kalau ia dan istrinya tak pernah melukai orang lain dan mengapa tentara melakukan hal seperti ini pada mereka. Dengan sopan Dam Pyung Joon mengatakan jika wanita yang bersama Wol Ryung bukanlah budak Negara yang sedang mereka cari, maka ia akan meminta maaf, “Jadi maukah kalian ikut bersamaku?”
Menghadapi Dam Pyung Joon yang sopan, Wol Ryung tak bisa menolak tapi juga tak mau menurut. Matanya terlihat panik dan mencari-cari jalan keluar, hingga matanya bertemu dengan mata kuda Dam Pyung Joon. Dan seperti menerima pesan Wol Ryung, kuda itu langsung meringkik dan mendompak, membuat Dam Pyung Joon harus menenangkan kuda itu.
Wol Ryung menggunakan kesempatan itu untuk lari. Namun Dam Pyung Joon yang kehilangan targetnya, langsung menembakkan anak panah ke udara, memberi isyarat pada pasukannya untuk bersiaga di tempatnya masing-masing.
Seo Hwa sudah tak kuat lari dan ingin menyerah.Ia minta maaf karena tak menuruti kata-kata Wol Ryung pagi tadi. Wol Ryung mencium kening Seol Hwa, berjanji untuk tetap melindunginya dan memintanya untuk bertahan.
Ternyata Wol Ryung dan Seo Hwa lari ke arah pasukan itu. Sudah ada beberapa orang yang menunggu di atas pohon, dan saat Wol Ryung dan Seo Hwa lewat, mereka menjerat Wol Ryung dengan rantai besi.
Dam Pyung Joon datang dan anak buahnya memastikan kalau wanita yang ada di depan mereka adalah budak Negara Yoon Seo Hwa. Maka Dam Pyung Joon pun menyuruh pasukannya untuk menangkap Seo Hwa.
Tapi menangkap Seo Hwa bukah hal yang mudah karena walau sudah terikat, Wol Ryung tetap melindungi istrinya, “Jangan sentuh dia! Dia adalah milikku.”
Salah satu tentara itu memukul perut Wol Ryung hingga Wol Ryung tersungkur, dan Seo Hwa pun langsung diseret menjauhi Wol Ryung.
Seo Hwa berteriak memanggil suaminya dan Wol Ryung yang dipukuli ramai-ramai hanya bisa menatap istrinya yang panik. Suara biksu So Jung yang menyebutkan pantangan untuk tak membunuh makhluk apapun terngiang di telinganya.
Suara Seo Hwa yang memanggil namanya juga terngiang di telinganya. Pantangan untuk tak menunjukkan wujud aslinya di depan manusia pun terngiang, seolah memperingatkannya.
Tapi peringatan itu tak dapat menghentikannya karena ia melihat Seo Hwa diseret semakin menjauh darinya. Kemarahan memenuhi matanya, kedua tangannya mengepal, dan seketika itu pula butiran cahaya biru muncul dari tanah di sekitar tubuh Wol Ryung.
Para pasukan itu terkesima melihat butiran cahaya itu, namun belum sempat mereka melakukan apapun, semua tentara yang mengerubuti Wol Ryung terpental ke udara, mengagetkan kelompok pasukan yang menyeret  Seo Hwa.
Di tempat Wol Ryung terikat, mereka melihat semua tentara tersungkur di tanah kecuali satu tentara yang kini tergantung di udara karena lehernya tercekik.
Oleh wujud asli Wol Ryung. Walau mereka sudah menduga, tapi Dam Pyung Joon dan pasukannya terkejut melihat wujud asli Wol Ryung. Sedangkan Seo Hwa hanya bisa terpana saat melihat suaminya yang mencekik leher tentara itu lebih keras sehingga orang itu tewas seketika, “Wol Ryung..”
Para tentara itupun langsung maju untuk menyerang, tapi Wol Ryung yang sudah buas, melumpuhkan para tentara itu dengan tangan kosong yang sekarang sudah berubah menjadi cakar. Dalam hatinya, Wol Ryung berkata sesuai janjinya pada istrinya, “Jangan sentuh Seo Hwaku.”
Tapi Seo Hwa yang melihat kebuasan suaminya, hanya bisa terpaku ketakutan. Tanpa sadar air matanya mengalir, melihat bagaimana Wol Ryung menebas para tentara itu dengan tangannya dan bahkan menggigit leher salah satu tentara seperti binatang.
Dan Wol Ryung pun berteriak, mengaum memekakkan telinga, sehingga angin  menerbangkan daun-daun sehingga menimbulkan pusaran angina yang hebat. Para tentara yang masih belum terkapar, satu per satu mulai tersungkur dengan menutup telinga karena tak tahan mendengar suara itu. Bahkan Dam Pyung Joon yang kemampuan bela dirinya paling tinggi pun akhirnya juga tersungkur, pingsan.
Sepertinya auman itu tak ditujukan pada Seo Hwa., karena sekarang hanya tinggal Wol Ryung dan Seo Hwa yang masih berdiri tegak. Wol Ryung berjalan menghampiri Seo Hwa. Namun Seo Hwa yang sudah ketakutan, meminta dalam hati, “Tidak, jangan mendekatiku…”
Suara hati Seo Hwa sepertinya terdengar oleh Wol Ryung karena ia menatap Seo Hwa putus asa dan tatapannya memohon. Tapi Seo Hwa yang baru saja melihat pemandangan yang mengerikan itu berteriak, “Tidakkk!!” dan ia pun jatuh pingsan. Wol Ryung kembali mengaum putus asa.
Wol Ryung membawa Seo Hwa ke dalam gua. Seo Hwa yang akhirnya sadar malah berteriak, meminta makhluk itu agar tak mendekatinya.
Masih dengan wujud aslinya, Wol Ryung berkata perlahan meminta agar Seo Hwa tak takut kepadanya karena ia adalah Wol Ryung. Seo Hwa bertanya tak percaya, “Apakah ini benar-benar dirimu?”
Wol Ryung mengangguk dan minta maaf karena menunjukkan wujud aslinya pada Seo Hwa. Dan karena kelelahan dan tubuhnya yang penuh luka, Wol Ryung pun terjatuh pingsan. 
Seo Hwa menggeleng-gelengkan tak percaya. Ia pun keluar gua dan bergumam, “Tidak. Ia tak mungkin Wol Ryung.” Dan ia pun pergi meninggalkan tempat yang pernah menjadi rumahnya.
Kembali butiran cahaya biru muncul dan secara ajaib menyembuhkan luka-luka yang diderita Wol Ryung yang tak sadarkan diri.
Sementara di tenda pasukan, Dam Pyung Joon iba melihat seluruh anggota pasukannya terluka parah. Anak buahnya melaporkan kalau pesan Dam Pyung Joon sudah disampaikan kepada Jo Gwan Woong yang akan segera  datang kemari. 
Mendadak, mereka dikejutkan oleh kedatangan Seo Hwa yang tak terduga menyerahkan diri.
Biksu So Jung yang sebelumnya merasakan kekhawatiran akan temannya, menemukan Wol Ryung tergeletak pingsan. Ia pun segera merawat Wol Ryung. Tapi Wol Ryung yang kemudian sadar, meminta temannya untuk menemukan Seo Hwa karena Seo Hwa sekarang takut padanya.
Betapa kesal dan putus asanya Biksu So Jung melihat Wol Ryung masih mengkhawatirkan Seo Hwa yang menyebabkan semua ini. Tapi Wol Ryung tetap memohon, sehingga temannya itu menyanggupi. Sebelum pergi ia mengingatkan Wol Ryung tentang pisau kayu dan di saat terakhir, Wol Ryung harus melakukan apa yang dulu pernah ia katakana.
Seo Hwa berhadapan dengan pembunuh ayahnya. Jo Gwan Woong menampar Seo Hwa, menyalahkan Seo Hwa yang telah mengorbankan nyawa pembantu dan adiknya untuk hidup dengan makhluk gaib.
Tentu saja Seo Hwa shock mendengar ucapan Jo Gwan Woong yang berbeda dengan ucapan Wol Ryung sebelumnya. Apalagi Jo Gwan Woong menjelaskan secara rinci bagaimana Dam mati gantung diri setelah meloloskan Seo Hwa, sedangkan Yoon mati digantung olehnya setelah ditemukan oleh para pemburu budak.
Jo Gwan Woong menyalahkan Seo Hwa. Kalau saja Seo Hwa mau tidur dengannya, maka nyawa Yoon akan selamat. Seo Hwa semakin shock mendengarnya. Tiba-tiba ia merasa mual, dan lari menjauh untuk muntah.
Jo Gwan Woong menyuruh Dam Pyung Joon untuk memaksa Seo Hwa menunjukkan arah ke sarang Gumiho dan memotong leher Gumiho itu, sekaligus leher Seo Hwa.
Dam Pyung Joon hanya diam, dan memandangi Seo Hwa yang menangis mengingat kedua orang terdekatnya.
Wol Ryung terbangun dan betapa terkejutnya ia saat keluar, ia melihat Dam Pyung Joon dan pasukannya telah bersiaga menunggu dirinya. Ia heran bagaimana Dam Pyung Joon bisa menemukan tempat tinggalnya karena tepat tinggalnya ini tak bisa dijamah oleh manusia.
Dan muncullah Seo Hwa dari balik punggung Dam Pyung Joon, memandang tajam kepadanya.
Wol Ryung tak menyangka Seo Hwa mengkhianatinya. Tapi Seo Hwa berkata dingin, “Dan bagaimana dengan kau yang membohongiku? Dam telah mati, Yoon juga telah mati. Kenapa kau mengatakan kalau mereka baik-baik saja?”
Wol Ryung menjawab kalau ia tak tahan melihat Seo Hwa tenggelam dalam kesedihan. Tapi Jo Gwan Woong muncul dan mengatakan motif Wol Ryung sebenarnya, “Sebagai seorang Gumiho, kau ingin merebut hatinya dengan membohonginya, menculiknya dan membuatnya bingung. Bukannya seperti itu?”
Tentu saja Wol Ryung membantah tuduhan itu. Tapi Seo Hwa bertanya bagaimana dengan Wol Ryung yang tak pernah memberitahukan kalau Wol Ryung adalah makhluk gaib? “Kenapa kau berpura-pura menjadi manusia?! Kukira kau adalah manusia biasa, dan semua yang kau katakan, yang kau tunjukkan padaku semuanya nyata.”
Wol Ryung menatap istrinya dengan putus asa. Tanpa sadar ia meneteskan air mata mengingat kata-kata Biksu So Jung saat menyerahkan pisau kayu itu.


Jika wanita yang kau cintai itu tetap mencintaimu setelah mengetahui siapa dirimu sebenarnya, maka kau akan selamat. Namun, jika ia mengkhianatimu, maka bunuhlah ia dengan pisau in, maka kau masih tetap akan menjadi penjaga gunung ini dan bukannya iblis seribu tahun. Jadi jika situasi terburuk itu terjadi, gunakan pisau ini apapun yang terjadi.
Wol Ryung mengeluarkan pisau kayu itu, dan berteriak putus asa memanggil nama Seo Hwa. Jo Gwan Woong memerintahkan pasukan untuk memanahnya. Tapi dengan mudah Wol Ryung menangkisnya dengan pisau kayu itu.
Dan ia lari merangsek maju yang dicoba ditahan oleh pasukan yang menghalanginya. Tapi Wol Ryung dengan mudah meloloskan diri dengan terbang tinggi melompatinya dan sekejap ia sudah ada di hadapan istrinya. Tanpa ada pisau di tangannya
Wol Ryung meraih pundak istrinya. Namun belum sempat ia berkata atau melakukan apapun, Dam Pyung Joon sudah menghunuskan pedang ke perutnya. Wol Ryung mengernyit kesakitan apalagi saat Dam Pyung Joon menghunus pedang semakin dalam.
Tapi pandangan Wol Ryung hanya tetap pada Seo Hwa dan ia berkata perlahan, “Mengapa kau melakukannya? Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Mengapa…?”

Seo Hwa terpana mendengar kata-kata Wol Ryung yang hanya berupa bisikan. Begitu pula Dam Pyung Joon yang mendengar pengakuan tulus Wol Ryung. Namun Jo Gwan Woong berteriak padanya, menyuruhnya untuk segera menghabisi makhluk itu.


Dan ketika wujud asli Wol Ryung muncul, cakarnya mencengkeram bahu Seo Hwa sehingga Seo Hwa berteriak kesakitan. Saat itu pulalah Dam Pyung Joon mendorong Wol Ryung menjauh dari Seo Hwa dan menebas Wol Ryung.

Tubuh Wol Ryung tak terjatuh, tapi malah terangkat tinggi dan butiran cahaya biru itu kembali muncul, kali ini sangat banyak karena tubuhnya perlahan-lahan berubah menjadi butiran cahaya itu.


“Wol Ryung…” Seo Hwa memandang Wol Ryung yang terus menatapnya walau seluruh badannya sudah mulai menghilang dan menjadi butiran cahaya. Wol Ryung pun lenyap digantikan oleh butiran cahaya biru yang seolah adalah jiwa Wol Ryung, yang sekarang terbang dan menghilang.

Seo Hwa terduduk lemas. Jo Gwan Woong memuji Dam Pyung Joon dan memintanya untuk menyelesaikan tugas akhirnya di sini. Dam Pyung Joon menatap Jo Gwan Woong tak percaya. Tapi Jo Gwan Woong tak peduli dan ia pun pergi meninggalkan mereka.


Dam Pyung Joon melihat satu orang yang harus ia bunuh lagi. Mendadak suara Biksu So Jung mengalihkan perhatiannya. Biksu So Jung bertanya dimanakah Wol Ryung berada. Menyadari Dam Pyung Joon hanya diam, ia segera menyadari kalau temannya itu telah gagal. Ia menangis putus asa memanggil-manggil nama temannya.

Ia berteriak marah menyalahkan Dam Pyung Joon yang telah membinasakan Wol Ryung, penjaga suci gunung ini. Wol Ryung tak pernah melukai siapapun. Dam Pyung Joon membantah hal itu karena separuh pasukannya terbunuh oleh Wol Ryung. Namun Biksu So Jung menyela, “Apakah ia yang memulai serangan? Apakah ia duluan menyerang?”

“Yang ingin ia lakuan hanyalah menjadi manusia biasa dan menjadi tua bersamanya,” kata Biksu So Jung dan ia menatap Seo Hwa, “Semua ini karena cintanya padamu! Apa kau tahu?”


Seo Hwa terpana mendengar kata-kata teman suaminya yang mengatakan kalau hanya dalam 10 hari lagi, Wol Ryung akan menjadi seorang manusia.  Ia terpaku, dan saat melihat pisau kayu yang tertinggal di tempat Wol Ryung berdiri, bersama dengan anak panah yang berserakan, ia menyadari kalau Wol Ryung tak pernah berniat untuk membunuhnya.


Dan perasaan mualpun datang kembali. Ia menutup mulutnya dan segera berlari menjauh, memuntahkan rasa mual itu.


Dam Pyung Joon mendekati Seo Hwa dan menyadari apa yang telah terjadi. Seo Hwa terbelalak, juga menyadari apa yang telah terjadi pada tubuhnya. Ia menolak percaya kalau hal ini terjadi padanya. Dam Pyung Joon hanya bisa menghela nafas.


Di kediamannya, Jo Gwan Woong menatap tusuk konde yang penuh darah yang dikirimkan Dam Pyung Joon kepadanya. Dam Pyung Joon telah menyelesaikan semuanya.


Dan untuk pertama kalinya ia terlihat sedih. Ia teringat saat ia melewati rumah Seo Hwa, dan dari jauh mengagumi kecantikan Seo Hwa yang sedang bersama Dam.

Hmm.. Apakah kejadian ini semua terjadi karena ia jatuh cinta pada Seo Hwa?


Wol Ryung ternyata berubah wujud kembali menjadi manusia. Entah sudah mati atau belum. Tapi tanaman merambat kembali menyelimuti tubuhnya, menyembunyikannya dari dunia manusia.


Musim berganti dan Taman Cahaya Bulan sekarang sepi, tak terjamah oleh siapapun.


Dan Seo Hwa yang hamil besar sekarang berada di Chunhwagwan, mencoba bunuh diri atau menggugurkan bayinya. Soo Ryun meminta Seo Hwa untuk menerima takdirnya. Tapi Seo Hwa tak mau, “Takdirku? Apa takdirku adalah menjadi gisaeng? Apakah takdirku adalah menjadi istri makhluk gaib? Atau takdirku menjadi ibu dari seorang monster? Aku tak dapat menerimanya. Semua itu bukan takdirku!”


Seo Hwa memohon agar ia bisa menggugurkan bayi ini sebelum ia melahirkan monster. Tapi Soo Ryun mengingatkan Seo Hwa yang telah meminum racun dan melompat dari ketinggian, tapi bayi itu tetap tumbuh sehat di kandungan Seo Hwa, “Anak ini pasti tak bisa mati sebelum kau mati!”


Maka Seo Hwa pun memohon agar ia bisa bunuh diri. Tapi Soo Ryun telah berjanji pada seseorang yang membawa Seo Hwa ke Chunhwagwan, maka ia menolak untuk membiarkan Seo Hwa melakukan hal itu.
Ditinggal sendirian, Seo Hwa merasakan kontraksi di perutnya. Dan ia pun mengambil keputusan.


Seo Hwa pun berjalan memasuki hutan. Suara Wol Ryung yang memanggilnya terngiang-ngiang di telinganya.


Dan sampailah ia di Taman Cahaya Bulan. Melihat bunga bermekaran, ia teringat saat-saat Wol Ryung dengan bahagia membawakannya bunya sepelukan besar. Ia kembali teringat betapa Wol Ryung membawakan kupu-kupu sekarang penuh dan membuka karung itu di hadapannya.


Kontraksi semakin terasa dan rasa sakit mulai menghebat. Seo Hwa pun melahirkan sendirian di goa, hanya ditemani kenangan saat pernikahan mereka.


Ia meredam jeritannya dengan kain dimulut, namun ia tak dapat meredam kenangan saat Wol Ryung mencoba menyelamatkan dirinya hingga ia harus menunjukkan wujud aslinya. Saat Wol Ryung tertusuk pedang Dam Pyung Joon, namun hanya dirinya yang Wol Ryung lihat. Betapa sebelum Wol Ryung lenyap, kata terakhirnya adalah Aku mencintamu. Sangat mencintaimu. Mengapa..?


Suara jeritan bayi terdengar pertama kali di malam hari. Dan butiran cahaya biru itupun muncul kembali.

Biksu So Jung yang kembali melihat butiran cahaya yang sangat ia kenal dan bertanya-tanya sendiri, “Wol Ryung..?”


Seo Hwa mendengar jeritan bayinya yang berada jauh dari sisinya. Bayi itu berada di sudut yang gelap, seolah-olah Seo Hwa tak ingin melihat wujud monster pada bayi yang baru saja ia lahirkan.


Bayi itu terus menangis. Dan dengan tekad bulat, Seo Hwa membuka bungkusan yang ia bawa, yang ternyata adalah sabit.


Ia pun mendekati bayi itu, “Maafkan aku, Wol Ryung. Tapi aku harus melakukannya. Maafkan aku..” dan mengayunkan sabitnya


Bayi itu kembali menangis. Dan butiran cahaya biru bermunculan seolah memanggil bulan untuk mengeluarkan sinarnya, menerangi goa itu sehingga ibunya dapat melihat wajahnya. Wujud aslinya.


Dan Seo Hwa pun tersentak melihatnya, “Astaga..”  dan ia pun perlahan mulai menyentuh bayi itu, membuka selimut yang tadi ia balutkan ke badan bayinya. Bayi itu seperti bayi kebanyakan pada umumnya, “Kau bukan monster. Kau bukan monster..”


Seo Hwa menangis. Menangisi bayinya. Menyesali semuanya yang sekarang sudah terlambat.


Di pinggir sungai, Park Mu Sol sedang bersantai di pinggir sungai bersama dengan teman-temannya dan pelayannya Choi Chun Ho. Tiba-tiba mereka mendengar suara bayi menangis dan melihat sebuah keranjang berisi bayi mengambang di sungai, melintasi mereka.


Buru-buru Park Mu Sol mengambil keranjang bayi itu dan membawanya ke tepian. Semua heran pada orang yang tega membuang bayi itu ke sungai.


Tiba-tiba muncul seorang biksu yang memberitahukan betapa beruntungnya Park Mu Sol mendapatkan bayi keberuntungan. Biksu itu memperkenalkan namanya sebagai So Jung.


Ia mengatakan kalau ia telah berkelana dan telah mempelajari tanda-tanda yang diberikan oleh langit, “Sepertinya jika kau memungut anak ini dan membesarkannya, kau akan mendapat sebuah keberuntungan yang besar.”


Teman-temannya memuji keberuntungannya dan salah satu temannya berinisiatif untuk memberikan nama, yaitu Kang (sungai) dan Chi (ditinggalkan). Bayi yang ditinggalkan di sungai, Kang Chi. Dan bayi ini akan mendapat marga Choi seperti marga pelayan Park Mu Sol.


Chun Ho berdalih kalau ia belum menikah, tapi Biksu So Jung berkata, “Choi Kang Chi, nama yang sangat bagus. Bagaimana menurutmu, Tuan Park?”


Park Mu Sol terdiam dan menatap bayi yang sekarang diam saat berada di gendongannya.



Ini adalah tempat yang misterius. Sisi liar dari alam yang tak terjamah oleh kaki manusia. Walaupun kisah cinta Wol Ryung dan Seo Hwa telah berakhir, legenda baru telah bermula.


Park Mu Sol terpesona melihat mata bayi yang tersenyum menatapnya, “Kang Chi.. Choi Kang Chi.” Dan ia tersenyum menatap bayi itu.

Komentar : 


Banyak yang heran dan kecewa dengan sikap Seo Hwa. Mengapa Seo Hwa meninggalkan Wol Ryung? Dan lebih parahnya lagi, mengapa Seo Hwa malah menemui Dam Pyung Joon yang notabene adalah suruhan Jo Gwan Woong dan menunjukkan tempat tinggal Wol Ryung? Bukankah Seo Hwa pernah ditolong oleh Wol Ryung bahkan menjadi suaminya?

Mungkin nama gumiho, si makhluk gaib, tak begitu mengena di pikiran kita yang bukanlah orang Korea. Bagaimana kalau jin? Atau kuntilanak? Kuntilanak versi pria?

Dan bayangkan seorang wanita yang baru saja melihat ayahnya yang tewas di depan matanya sendiri, dijadikan budak yang kemudian dijadikan gisaeng, akhirnya menurut setelah melihat adiknya dipukuli hingga hampir mati. Dia pun akhirnya meloloskan diri atas bantuan pelayannya.

Ia diselamatkan oleh pria yang menyukainya, dan akhirnya mereka menikah. Akhirnya ia ditangkap setelah terkejut melihat wujud asli suaminya. Dan Jo Gwan Woong mengatakan kalau Wol Ryung adalah gumiho. Dan menurut Jo Gwan Woong, gumiho itu membohonginya untuk mendapatkan dirinya.

Jadi, jika kita menyelami pikiran Seo Hwa, keluarganya tewas dan ia menikah dengan makhluk sejenis jin? Apakah salah saja jika Seo Hwa berpikiran kalau bayi itu adalah akan menjadi monster? Hanya ketika ia melihat bayinya, ia menyadari kalau ia tidak melahirkan seorang monster.


Namun mengapa Seo Hwa memutuskan untuk melarung bayinya di sungai? Saya sebenarnya juga heran. Yang terpikir di benak saya adalah jawaban Fanny di twitter, yaitu setelah Seo Hwa shock, shock tambah shock lagi.

Bagi saya, yang paling mengena adalah ucapan Seo Hwa yang bertanya marah, "Takdirku? Apa takdirku adalah menjadi gisaeng? Apakah takdirku adalah menjadi istri makhluk gaib? Atau takdirku menjadi ibu seorang monster? Aku tak dapat menerimanya. Semua itu bukan takdirku!"

Seorang gadis bangsawan, yang biasanya selalu bergelimang kemewahan, martabatnyadijatuhkan menjadi gisaeng. Harga dirinya sebagai wanita dilindas dengan ia harus melayani pembunuh ayahnya. Ia mulai menerima bahagia dengan takdirnya dengan menjadi istri seseorang pria. Hanya untuk mengetahui kalau pria itu adalah makhluk gaib yang disebut oleh tentara dengan gumiho. Ia tak tahu kalau Wol Ryung adalah makhluk suci penjaga gunung Jiri.

Dan saya pun sebenarnya ragu, makhluk suci penjaga gunung Jiri itu seperti apa? Apakah seperti Sun Go Kong, makhluk nakal yang dibuang dari surga? Atau yang lainnya? Saya pernah menonton drama Cina, tentang Dewi Kwan Im. Ada makhluk jadi-jadian yang telah berbuat baik, dan akhirnya ditasbihkan oleh Dewi Kwan Im sebagai penunggu tempat itu.

Tapi Seo Hwa tak tahu kalau Wol Ryung adalah makhluk suci penjaga gunung Jiri, hingga Biksu So Jung yang mengatakannya. Walau begitu, ia masih ragu. Makhluk suci itu tetap bukanlah manusia. Dan ia sudah melihat kekejian Wol Ryung saat ia berubah wujud.


Jadi memang perbuatan Seo Hwa yang membuang anaknya sendiri itu tak dapat dibenarkan. Tapi apakah kita bisa menyalahkan Seo Hwa atas tindakannya? Bagaimana jika kita berada di posisi Seo Hwa dan menjadi dirinya yang mengalami kejadian seperti itu?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar